Harga Minyak Terjun Bebas, Kurs Rupiah Pagi Ini Ikutan Anjlok

Rupiah - www.konfrontasi.comRupiah - www.konfrontasi.com

Jakarta mengawali pagi hari ini, Rabu (22/4), dengan pelemahan sebesar 62,5 poin atau 0,40 persen ke level Rp15.530 per dolar AS. Sebelumnya, Selasa (21/4), Garuda berakhir terdepresiasi 55 poin atau 0,36 persen ke posisi Rp15.468 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah mata uang utama terpantau menguat. Pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, indeks dolar AS naik 0,24 persen jadi 100,19 lantaran para pelaku meninggalkan aset-aset berisiko di tengah turunnya harga minyak dunia karena permintaan yang rendah.

Harga minyak mentah berjangka Amerika Serikat merosot ke zona negatif untuk pertama kalinya pada Senin (20/4) lantaran penurunan tajam dalam penggunaan akibat pandemi (Covid-19) menciptakan kelebihan pasokan dan kekurangan kapasitas penyimpanan.

Penutupan pabrik serta pembatasan perjalanan yang diterapkan untuk menahan laju penyebaran virus corona juga mengakibatkan jatuhnya harga minyak. Faktor itulah yang menarik uang dari mata uang komoditas dan aset berisiko lain ke aset aman yang berdenominasi dolar.

“Ini jelas merupakan hari yang penuh risiko sehingga dolar mendapat manfaat dari hal itu sekarang. Bahkan ketika Anda menghidupkan kembali akan membutuhkan waktu cukup lama untuk permintaan mampu menyerap pasokan minyak. Sampai ini terselesaikan, Anda seharusnya tidak terkejut melihat pelemahan tambahan,” ujar Minh Trang, pedagang valas senior di Silicon Valley Bank di Santa Clara, California, seperti dilansir Antara.

“Kemunduran minyak kemarin membuat para investor ketakutan, dan sementara beberapa ekonomi mulai dibuka kembali dari penguncian, jalan kembali ke keadaan normal jelas akan lama,” imbuh Jonathan Coughtrey, direktur pelaksana di Action Economics.

Menurut Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim, gerak rupiah kemarin dipengaruhi berbagai sentimen, mulai dari harga minyak mentah yang melemah karena kelebihan pasokan dan juga virus corona. “Permintaan (minyak mentah) nyaris nihil karena kebijakan social distancing di beberapa negara,” jelas Ibrahim.

Sedangkan Federal Reserve berencana kembali mengucurkan paket stimulus sebesar USD450 miliar dan dikhususkan bagi sektor-sektor yang terdampak virus corona. Sebelumnya, The Fed telah menyalurkan stimulus sebanyak 2 kali, masing-masing nilainya USD2,2 triliun dan USD2,3 triliun. “Sentimen tersebut (The Fed) diharapkan bakal mendorong rupiah untuk kembali menguat pada perdagangan besok (hari ini),” tandas Ibrahim, seperti dikutip Kontan.

Loading...