Data Ekonomi AS Kurang Menggembirakan, Rupiah Menguat di Pembukaan

Rupiah - Kabarin.coRupiah - Kabarin.co

Jakarta dibuka menguat sebesar 15 poin atau 0,10 persen ke level Rp14.755 per AS di awal perdagangan pagi hari ini, Rabu (20/5). Sebelumnya, Selasa (19/5), Garuda berakhir terapresiasi 80 poin atau 0,54 persen ke posisi Rp14.770 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the Greenback terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau melemah. Pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, indeks dolar AS tertekan oleh euro karena proposal Perancis- untuk dana yang akan menawarkan hibah ke Uni Eropa dan sektor-sektor yang paling terdampak oleh (Covid-19).

Jerman dan Perancis yang perjanjiannya biasanya membuka jalan untuk kesepakatan Uni Eropa yang lebih luas, mengusulkan supaya Komisi Eropa meminjam 500 miliar euro (setara 550 miliar dolar AS) atas nama seluruh UE. Komisi diharapkan menguraikan proposal mereka sebelum pertemuan puncak Eropa yang dijadwalkan tanggal 27 Mei 2020 mendatang.

“Usulan Prancis-Jerman merupakan langkah maju yang material menuju pemanfaatan kapasitas fiskal bersama untuk memberikan stimulus fiskal berkelanjutan guna mendukung pemulihan ekonomi,” ungkap Lee Hardman, analis mata uang di MUFG, seperti dilansir Antara.

Dolar AS memperoleh sedikit suntikan dari yang melaporkan pembangunan rumah Amerika Serikat mengalami penurunan paling banyak pada April 2020. Dolar AS melemah lantaran investor mengambil petunjuk dari tahap awal yang menggembirakan terkait vaksin virus corona potensial.

“Dolar AS adalah tempat yang aman seperti franc Swiss atau yen Jepang dan itu adalah tempat yang aman di bawah tekanan dari kemarin pagi sampai sekarang,” jelas Brad Bechtel, kepala valas global di Jefferies.

Menurut Analis Monex Investindo Futures Faisyal, gerak rupiah hari ini dipengaruhi oleh rilis data semalam. Pasalnya, Federal Reserve menyampaikan pidato terkait kondisi terbaru di AS. “Jika pidato The Fed mengindikasikan adanya pelonggaran moneter untuk menopang ekonomi AS, maka hal tersebut bisa menjadi sentimen yang melanjutkan penguatan rupiah,” ungkap Faisyal, seperti dikutip dari Kontan.

Senada, Ekonom Bank Mandiri Reny Eka Puteri menilai data laporan keuangan dan produksi manufaktur di AS akan jadi penggerak rupiah. Perkembangan seputar virus corona juga masih akan memengaruhi rupiah. “Tinggal menantikan dampak positif penemuan vaksin, serta perkembangan ekonomi di beberapa yang sudah melonggarkan kebijakan lockdown,” tutupnya.

Loading...