Stimulus BI Belum Berpengaruh, Rupiah Nyaris Sentuh Level Rp16.000/USD

Rupiah - www.liputan6.comRupiah - www.liputan6.com

Jakarta dibuka melemah sebesar 37,5 poin atau 0,24 persen ke level Rp15.950 per AS di awal pagi hari ini, Jumat (20/3). Sebelumnya, Kamis (19/3), nilai tukar mata uang Garuda berakhir terdepresiasi 690 poin atau 4,53 persen ke posisi Rp15.913 per .

Indeks yang mengukur pergerakan the terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau menguat. Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, indeks dolar AS naik 2,0 persen jadi 102,73, level tertinggi sejak Januari 2017.

Indeks dolar AS terpantau menguat sebesar 4 persen selama pekan ini lantaran dipicu kekhawatiran terkait kemunduran akibat , sehingga meningkatkan permintaan terhadap dolar AS. Bank-bank sentral dunia sendiri sebenarnya telah melakukan langkah-langkah terbuat guna mengurangi gejolak .

“Amukan dolar berlanjut ke sesi lain hari ini di pasar valas, berfokus pada mata uang G10 yang sebelumnya berkinerja baik di tengah-tengah gejolak pasar,” ungkap Simon Harvey, seorang analis pasar berbasis di London di Monex Europe, seperti dilansir Antara.

“Kekuatan dolar, pada dasarnya, adalah reli short-covering yang kuat. Itu digunakan untuk mendanai sebagian besar sirkuit global. Sirkuit terbalik sekarang, dan mata uang pendanaan dibeli kembali,” imbuh Kepala Strategi Pasar Bannockburn Global Forex, Marc Chandler.

Dari dalam negeri, Analis Monex Investindo Futures Faisyal memperkirakan rupiah masih berpeluang untuk melemah dan mencapai level Rp16.000 di perdagangan hari ini. Menurut Faisyal, penurunan suku bunga oleh Bank Indonesia (BI) tak akan berdampak terlalu banyak untuk menopang rupiah.

Gubernur BI Perry Warjiyo dalam telekonferensi hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI sore kemarin (19/3) mengumumkan pemangkasan suku bunga acuan sebesar 25 bps menjadi 4,5 persen. “Upaya BI efeknya tidak akan besar dan terbatas. Berkaca dari Bank Sentral Eropa yang pagi tadi juga beri stimulus besar-besaran namun nyatanya euro tetap terpukul juga,” ungkap Faisyal, seperti dikutip dari Kontan.

Sementara itu, Head of Economics and Research Bank UOB Enrico Tanuwidjaja justru berpendapat jika langkah BI ini sudah cukup bagus. Kini yang perlu dicermati adalah respons pasar terhadap upaya stabilisasi rupiah lewat kenaikan frekuensi item deposit, dan efek swap pricing pasca Giro Wajib Minimum (GWM) valas diturunkan.

“Ini kan baru ditetapkan per hari ini, dan baru efektif besok. Jadi bisa kita lihat seberapa banyak kebijakan tersebut bisa menambah suplai dolar AS dari instrumen term deposit valas dan effect swap option,” jelas Enrico kemarin.

Loading...