BI Diprediksi Pangkas Suku Bunga, Rupiah Masih Terpuruk di Zona Merah

Rupiah - merahputih.comRupiah - merahputih.com

Jakarta – Nilai tukar dibuka melemah sebesar 65 poin ke posisi Rp15.287,5 per dolar AS di awal pagi hari ini, Kamis (19/3). Kemudian lanjut melemah 80 poin atau 0,53 persen jadi Rp15.302,5 per USD. Kemarin, Garuda berakhir terdepresiasi 50 poin atau 0,33 persen ke level Rp15.223 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the Greenback terhadap sejumlah mata uang dunia terpantau menguat. Pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB, dolar AS naik 1,69 persen jadi 101,08, level tertinggi sejak April 2017. Indeks dolar AS tersebut tercatat pada laju lompatan satu hari terbesar sejak 24 Juni 2016. Melambungnya dolar AS tersebut ditengarai akibat kekhawatiran para investor di tengah wabah dan menganggap dolar AS sebagai aset yang aman.

“Dalam nada yang sama dengan konsumen mengosongkan rak di toko-toko kebutuhan pokok, investor dan perusahaan memperlakukan greenback dengan cara yang sama, melahapnya dengan status sangat likuid,” ujar Joe Manimbo, analis pasar senior, di Western Union Business Solutions di Washington, seperti dilansir Reuters melalui Antara.

Dolar AS sudah menguat terhadap mata uang lain selama beberapa hari belakangan meski ada dua penurunan darurat oleh Federal Reserve pada bulan ini, sehingga membawa AS turun ke nol. Sementara itu, Bank Sentral Eropa, Bank Sentral Inggris, dan Bank Sentral Swiss semuanya mengadakan penjualan likuiditas dolar pada Rabu (18/3), sebagai bagian dari suntikan dana terkoordinasi terbesar oleh bank sentral sejak krisis keuangan 2007-2009.

Sementara itu, dari dalam negeri (BI) akan kembali menentukan suku bunga acuan BI-7 Days Reverse Repo Rate (BI-7DRRR) dalam Rapat Dewan Gubernur (RDG-BI). Para ekonom memperkirakan keputusan BI itu nantinya tidak terlalu berpengaruh terhadap gerak rupiah, selama penanganan pemerintah terhadap pandemi korona masih belum sesuai dengan ekspektasi pasar.

Ekonom Bank Permata Josua Pardede memprediksi BI akan mengikuti langkah bank sentral yang memangkas suku bunga acuannya guna mengantisipasi dampak perlambatan supaya tak semakin parah.

“Gerakan social distancing berpengaruh pada menurunnya pertumbuhan ekonomi di kuartal I-2020, alasan ini akan jadi pertimbangan BI melakukan kebijakan fiskal maupun nonfiskal,” ungkap Josua, seperti dikutip dari Kontan. Selain memangkas suku bunga, BI juga diperkirakan akan mengeluarkan kombinasi kebijakan lain supaya rupiah tidak terpuruk terlalu jauh.

Loading...