Kekhawatiran Hard Brexit Mencuat, Rupiah Kembali Tergelincir ke Posisi Rp14.000/USD

Rupiah - poskotanews.comRupiah - poskotanews.com

Jakarta mengawali perdagangan pagi hari ini, Rabu (18/12), dengan pelemahan sebesar 3,5 poin atau 0,03 persen ke level Rp14.000 per dolar AS. Sebelumnya, Selasa (17/12), Garuda berakhir terapresiasi 13 poin atau 0,1 persen ke posisi Rp13.997 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau menguat moderat. Pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, indeks dolar AS naik sedikit lebih tinggi sebesar 0,20 persen ke level 97,214 akibat penurunan pound sterling dan anjloknya dolar Australia usai Perdana Menteri Inggris Boris Johnson kembali menggaungkan gagasan untuk keluar tanpa kesepakatan dari Uni Eropa.

Pada Selasa (17/12), Inggris menetapkan tenggat waktu yang sulit pada Desember 2020 untuk mencapai kesepakatan perdagangan baru dengan Uni Eropa, berusaha menekan Brussels untuk bergerak lebih cepat dalam menandatangani kesepakatan.

“Sterling-negatif ketika ketidakpastian kembali ke garis depan,” ujar Analis Senior Western Union Business Solutions, Joe Manimbo. Sementara itu, Ahli Valuta Asing Senior TD Securities, Mazen Issa menambahkan bahwa langkah tersebut juga didorong yang melepaskan posisi pra pemilihan di pound sterling. “Ada banyak optimisme yang dibangun ke sterling masuk ke pemilihan karena jajak pendapat terus menunjukkan bahwa akan ada mayoritas Konservatif,” kata Issa, seperti dilansir Antara.

Di sisi lain, rupiah kemarin berhasil menguat setelah kesepakatan dagang fase satu antara Amerika Serikat dengan China. Menurut Ekonom BCA David Sumual, menguatnya rupiah tersebut melanjutkan respons positif pasar terhadap kesepakatan fase satu antara AS dengan China. “Sejauh ini pasar emerging market atraktif karena yield cenderung menurun aset rupiah pun jadi menarik dan banyak investor asing yang masuk terutama melalui pasar modal,” ujar David, seperti dilansir Kontan.

Rupiah pun menguat karena dolar AS sempat tertekan akibat gerak reli pound sterling usai Partai Konservatif memenangkan pemilu Inggris. “Dollar AS juga tertekan akibat pelaku pasar masih mengkhawatirkan perang dagang AS yang meluas ke kawasan Eropa dan Korea Selatan,” sambung David. Sedangkan dari dalam negeri masih belum ada sentimen yang dapat menggerakkan rupiah.

Loading...