AS-China Teken Kesepakatan Dagang, Rupiah Menguat ke Rp13.678/USD

Rupiah - nasional.tempo.coRupiah - nasional.tempo.co

Jakarta – Nilai tukar dibuka menguat 17 poin ke Rp13.678 per . Kemudian lanjut naik sebesar 20 poin atau 0,15 persen ke posisi Rp13.675 per AS di awal pagi hari ini, Kamis (16/1). Kemarin, Rabu (15/1), kurs mata uang Garuda berakhir terdepresiasi 15 poin atau 0,11 persen ke level Rp13.695 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau memangkas kerugiannya, namun tetap lebih rendah terhadap euro dan yen pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB usai Amerika Serikat dan China menandatangani kesepakatan untuk mengurangi perang dagang di antara mereka.

Namun kesepakatan mempertahankan pemberlakuan 25 persen untuk sejumlah besar dan komponen China senilai 250 miliar dolar AS yang dipakai oleh pabrikan AS. “Tidak banyak reaksi sama sekali terhadap penandatanganan perjanjian perdagangan,” ujar Shaun Osborne, kepala ahli strategi di Scotiabank di Toronto, seperti dilansir Antara.

“Dolar telah berkinerja relatif baik dari unsur ketidakpastian yang disebabkan oleh perang perdagangan yang berkepanjangan ini. Jadi, di margin kami pikir itu negatif dolar,” sambung Osborne.

Di sisi lain, Ekonom Bank Permata Josua Pardede mengatakan bahwa melemahnya rupiah di perdagangan sebelumnya masih tertolong oleh dirilisnya data dan membuat rupiah bergerak cenderung menguat. “ bulan Desember 2019 tercatat defisit US$28,2 juta, angka ini menyusut jauh bila dibandingkan November yang defisitnya mencapai US$1,39 miliar. Inilah yang kemudian mengangkat performa rupiah,” ungkap Josua, seperti dikutip Kontan.

Senada, Ekonom Bank BNI Ryan Kiryanto berpendapat bahwa kinerja perdagangan yang membaik juga disambut positif oleh . “Defisit perdagangan di 2019 lalu sebesar US$3,2 miliar, jauh lebih rendah dari 2018 yang mencapai US$8,9 miliar. Semoga saja bisa konsisten sepanjang tahun ini sehingga pada akhirnya bisa menurunkan defisit di 2020 ini, bahkan kalau bisa hingga surplus,” papar Ryan.

Josua sendiri memprediksi hari ini rupiah akan kembali melemah tipis karena pasar masih menanti kelanjutan perang dagang AS-China. “Sentimen yang sudah terbangun pada hari ini setelah adanya laporan bahwa tarif China tidak akan berubah hingga November mendatang setelah pemilu AS. Meskipun, pelemahan ini cenderung tidak terlalu signifikan,” bebernya.

Loading...