Data Ekonomi AS Suram, Rupiah Justru Lagi-lagi Merosot

Rupiah - www.liputan6.comRupiah - www.liputan6.com

Jakarta rupiah dibuka melemah sebesar 82,5 poin ke level Rp15.657,5 per AS di awal pagi hari ini, Kamis (16/4). Kemudian lanjut melemah 94 poin atau 0,60 persen ke Rp15.669 per USD. Kemarin, Rabu (15/4), nilai tukar Garuda berakhir terapresiasi 70 poin atau 0,45 persen ke posisi Rp15.575 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the Greenback terhadap sejumlah mata uang utama terpantau menguat. Pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB, indeks dolar AS naik 99,98, namun mengembalikan sejumlah kenaikannya dan terakhir diperdagangkan naik 0,71 persen.

Kenaikan dolar AS ini terjadi karena para pelaku pasar mulai meninggalkan aset-aset berisiko dan beralih ke aset-aset safe haven seperti dolar AS. negara Amerika Serikat, safe haven tradisional lainnya memperlihatkan imbal hasilnya jatuh lantaran permintaan utang mendorong harga untuk naik lebih tinggi.

Pada Rabu (15/4), Departemen Perdagangan AS melaporkan bahwa penjualan ritel Amerika Serikat mengalami rekor penurunan pada Maret 2020 akibat penutupan untuk mengendalikan penyebaran menekan permintaan terhadap berbagai barang, menyiapkan pengeluaran untuk penurunan terburuk selama beberapa dekade.

New York pun melaporkan pada Rabu (15/4), indeks manufaktur Empire State yang melacak aktivitas di sektor tersebut untuk negara bagian New York telah merosot ke level terendah sepanjang masa lebih dari 2 kali lipat dari prediksi Wall Street.

“Laporan IMF semalam, yang menurunkan pertumbuhan global lebih dari yang diperkirakan, bersama dengan rekor penurunan penjualan ritel AS, dan penurunan besar dalam produksi industri AS, semua digabungkan mendorong serbuan terhadap safe-haven dolar AS,” kata analis di Action Economics, seperti dilansir Antara.

Sementara itu, rupiah kemarin menguat karena dipicu data neraca perdagangan yang dinilai cukup memuaskan. Selama Maret 2020, Badan Pusat Statistik menyatakan nilai ekspor naik 0,23 persen jadi USD14,09 miliar, sedangkan nilai impor pada Maret 2020 sebesar USD13,35 miliar atau naik 15,6 persen secara bulanan.

“Angka ekspor dan impornya ternyata tidak seburuk perkiraan pasar sehingga memberikan dampak positif bagi rupiah,” ungkap Analis Monex Investindo Futures Faisyal, seperti dikutip Kontan. Hari ini Faisyal memprediksi rupiah masih berpotensi untuk menguat. Terlebih karena data perekonomian penjualan ritel AS diperkirakan turun tajam.

Loading...