Pasar Nantikan Data Neraca Dagang, Kurs Rupiah Dibuka Stagnan

Rupiah - www.medanbisnisdaily.comRupiah - www.medanbisnisdaily.com

Jakarta dibuka stagnan di posisi Rp14.450/USD di awal pagi hari ini, Rabu (15/7). Kemudian bergerak melemah tipis sebesar 3,5 poin atau 0,02 persen ke level Rp14.453,5 per dolar AS. Sebelumnya, Selasa (14/7), mata uang Garuda berakhir terdepresiasi 25 poin atau 0,17 persen ke posisi Rp14.450 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau melemah. Pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, indeks dolar AS melemah 0,21 persen jadi 96,2635 saat para tengah mencerna sejumlah data terbaru Amerika Serikat.

Pada Selasa (14/7), Biro Statistik Amerika Serikat melaporkan, Indeks Harga (IHK) untuk Semua Urban di Amerika Serikat naik 0,6 persen pada Juni 2020 berdasarkan penyesuaian secara musiman usai terkoreksi 0,1 persen pada Mei 2020.

Sedangkan angka IHK inti, yang tidak termasuk dengan makanan dan energi, meningkat 0,2 persen pada Juni, sekaligus menjadi kenaikan bulanan pertama sejak Februari 2020, demikian seperti dilansir dari Antara. Mata uang dolar AS yang umumnya dipandang sebagai safe haven juga berada di bawah tekanan di tengah menguatnya pasar ekuitas dengan Dow Jones naik sekitar 400 poin pada sesi perdagangan Selasa (14/7) sore.

Sementara itu, kekhawatiran pasar terhadap adanya pandemi (Covid-19) gelombang kedua masih akan menekan gerak rupiah pada hari ini. Data ekspor impor yang akan segera dirilis juga menjadi sentimen penggerak rupiah terhadap USD.

“Kekhawatiran masih tingginya kasus Covid-19, masih menjadi sentimen negatif bagi pasar valas termasuk rupiah,” ucap Analis Pasar Uang Bank Mandiri Reny Eka Putri, seperti dikutip dari Kontan.

Oleh sebab itu, Reny memprediksi jika hari ini nilai tukar rupiah masih akan sideways dengan kecenderungan melemah. Selain itu, pasar juga sedang menunggu rilis data ekspor impor bulan Juni 2020. Reny memperkirakan bahwa neraca perdagangan masih akan mencatatkan surplus karena penurunan impor yang lebih tinggi dibandingkan aktivitas ekspor.

“Mungkin beberapa bakal kembali lockdown karena kasus Covid-19 yang kembali meningkat. Sehingga, ini akan menjadi katalis negatif di pasar keuangan,” jelas Reny.

Loading...