Data Ekonomi China Membaik, Rupiah Belum Temukan Momentum untuk Menguat

Rupiah - poskotanews.comRupiah - poskotanews.com

Jakarta di awal pagi hari ini, Rabu (15/4), dibuka relatif stagnan di level Rp15.645 per dolar AS. Sebelumnya, Selasa (14/4), kurs mata uang Garuda berakhir terdepresiasi 15 poin atau 0,10 persen ke posisi Rp15.645 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the Greenback terhadap sejumlah mata uang utama terpantau melemah. Pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, indeks dolar AS jatuh 0,50 persen jadi 98,90 lantaran sentimen risiko kembali ke setelah data China yang lebih baik dari prediksi.

Adapun angka ekspor China pada Maret 2020 mengalami penurunan sebesar 6,6 persen dari setahun sebelumnya, dibanding perkiraan penurunan 14 persen. Sedangkan angka impor turun kurang dari 1 persen dibanding dengan prediksi penurunan sebesar 9,5 persen.

“Dolar telah mempertahankan bias pelemahan moderat di tengah konteks posisi risk-on (pengambilan risiko) dan dengan pasar kembali ke partisipasi penuh setelah libur akhir pekan panjang di banyak pusat di Eropa dan -Pasifik,” demikian kata analis di Action Economics, seperti dilansir Antara.

Data perdagangan China pada Maret 2020 memberi dukungan bullish untuk pasar di Asia dengan menunjukkan pengurangan dalam tingkat penurunan impor dan ekspor usai kejatuhan parah pada bulan Januari dan Februari.

Menurut Ekonom Bank Mandiri Reny Eka Putri, stabilnya gerak rupiah masih dipengaruhi oleh sentimen domestik dan eksternal. Dari dalam negeri, Bank (BI) telah mempertahankan suku bunga acuan di level 4,50 persen, namun menurunkan rasio pencadangan alias giro wajib minimum perbankan.

Reny berpendapat bahwa kebijakan moneter BI yang akomodatif membuat cukup optimis terhadap kondisi ekonomi domestik. “Aliran dana yang masuk ke pasar obligasi menunjukkan perkembangan positif sehingga membantu rupiah menguat dan tetap stabil di bawah level Rp16.000,” ucap Reny, seperti dikutip Kontan.

Namun, rupiah kemarin sedikit tertahan karena perkembangan jumlah korban virus corona di Indonesia yang terus bertambah. Presiden Komisioner HFX International Berjangka Sutopo Widodo menilai, sentimen negatif dari virus corona (Covid-19) masih akan terus menahan laju rupiah ke depan.

Loading...