Turun 1 Poin, Rupiah Hari Ini Diprediksi Masih Akan Melemah Akibat Isu Corona

Rupiah - republika.co.idRupiah - republika.co.id

Jakarta dibuka melemah tipis sebesar 1 poin atau 0,01 persen ke posisi Rp13.695 per AS di awal pagi hari ini, Jumat (14/2). Sebelumnya, Kamis (13/2), Garuda menutup perdagangan sore dengan pelemahan sebesar 20 poin atau 0,15 persen ke level Rp13.694 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the Greenback terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau menguat. Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, indeks dolar AS menguat terhadap euro lantaran kekhawatiran terkait kenaikan tajam jumlah kasus baru dalam virus corona di China mendesak para pelaku untuk mencari aset-aset Amerika Serikat.

AS dinilai sebagai tempat lebih baik saat menghadapi dampak ekonomi dari virus dibandingkan zona euro. “Eropa, dan Jerman khususnya, memiliki hubungan perdagangan yang sangat kuat dengan pasar Asia, dan terutama dengan China. Menjelang tahun ini, diperkirakan untuk rebound pertumbuhan moderat. Meskipun itu tampak masuk akal pada saat itu, gangguan akan menunda narasi tersebut,” ujar Mazen Issa, ahli strategi valas senior TD Securities di New York, seperti dilansir Antara.

Ekspektasi pasar terhadap kemungkinan bank sentral akan mempertahankan suku bunga rendah dan dapat memberi akomodasi lebih apabila virus corona mengancam kondisi ekonomi , telah mendukung selera risiko dan berpotensi mengurangi kemungkinan aksi jual yang tajam di pasar saham. “Perspektifnya adalah suku bunga akan tetap rendah, dan itu menutupi beberapa sisi negatif dari sisi ekuitas,” jelas Issa.

Data ekonomi terbaru Amerika Serikat menunjukkan bahwa harga-harga pokok konsumen AS mengalami peningkatan pada Januari 2020 lantaran rumah tangga membayar lebih banyak untuk sewa dan pakaian. Hal ini sekaligus mendukung pernyataan bahwa tingkat inflasi AS akan secara bertahap naik ke target 2 persen.

Pada hari ini, analis Global Kapital Investama Alwi Assegaf memperkirakan rupiah masih akan melemah selama isu virus corona masih belum bisa ditangani. “Dolar AS akan terus dilirik di tengah isu virus karena perannya sebagai mata uang safe haven,” jelas Alwi, seperti dikutip dari Kontan.

Di samping itu faktor solidnya data-data ekonomi Amerika Serikat, terlebih menjelang dirilisnya data inflasi atau Consumer Price Index (CPI) juga kemungkinan bakal menahan laju rupiah. Apabila inflasi naik, maka The Fed semakin tidak mempunyai alasan untuk menurunkan suku bunga.

Loading...