Rupiah Dibuka Menguat Jelang Pidato Jerome Powell

Rupiah - eljohnnews.comRupiah - eljohnnews.com

Jakarta – Kurs dibuka menguat sebesar 25 poin ke level Rp14.880 per AS di awal pagi hari ini, Rabu (13/5). Kemudian, lanjut menguat 30 poin atau 0,20 persen menjadi Rp14.875/USD. Sebelumnya, Selasa (12/5), Garuda berakhir terdepresiasi 10 poin atau 0,07 persen ke posisi Rp14.905 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terpantau melemah. Pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, indeks dolar AS jatuh 0,3 persen jadi 99,959 lantaran cenderung berhati-hati menjelang pidato Ketua Federal Reserve Jerome Powell terkait masalah dan saat mempertimbangkan suku bunga negatif Amerika Serikat.

Menurut para analis, dolar AS tak selalu didorong oleh safe haven. Terlebih karena saham-saham AS turun dan harga surat utang pemerintah lebih tinggi. “Dolar masih diperdagangkan dalam kisaran luas dan pelemahannya hari ini mungkin karena kehati-hatian menjelang pidato Powell besok dan terutama mengingat pembicaraan saat ini tentang suku bunga negatif,” ujar Joe Manimbo, analis pasar senior di Western Union Business Solutions di Washington, seperti dilansir Antara.

Walaupun Powell dan para pejabat The Fed sama sekali mengesampingkan kemungkinan pemotongan suku bunga di bawah nol, beberapa pasar sudah mulai mempertimbangkan pemotongan seperti itu. Fed Funds berjangka pada Selasa (12/5) mematok suku bunga negatif sekitar setengah basis poin untuk April 2021.

Dolar sedikit terkoreksi usai data menunjukkan indeks harga AS turun 0,8 persen pada April 2020, penurunan terbesar sejak Desember 2008 saat ekonomi berada dalam gejolak resesi dan menandai penurunan bulanan kedua berturut-turut dalam IHK. Para analis menuturkan, secara keseluruhan pengambilan risiko telah dibatasi oleh kekhawatiran yang terus-menerus terkait krisis kesehatan global.

Menurut Head of Research MNC Sekuritas Edwin Sebayang, gerak rupiah hari ini diperkirakan bakal kembali tertekan karena didominasi oleh faktor eksternal. “Besok kembali melemah karena kembali hangatnya trade war antara AS dan China,” ujar Edwin, seperti dilansir Kontan.

“Saat ini, investor cenderung mencari aset lindung nilai seperti dolar AS, di tengah meningkatnya ketegangan AS dan China. Ditambah lagi, ada kekhawatiran akan gelombang kedua dari Covid-19,” sambung Analis GK Investment Alwi Assegaf.

Loading...