Belum Mampu Bangkit, Rupiah Pagi Ini Dibuka Anjlok 73 Poin

Rupiah - www.medanbisnisdaily.comRupiah - www.medanbisnisdaily.com

Jakarta mengawali perdagangan pagi hari ini, Jumat (13/3), dengan pelemahan sebesar 73 poin atau 0,50 persen ke posisi Rp14.595 per dolar AS. Sebelumnya, Kamis (12/3), Garuda ditutup anjlok cukup dalam sebesar 148 poin atau 1,03 persen ke level Rp14.552 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the Greenback terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau menguat 0,9 persen menjadi 97,455 usai Federal Reserve menyatakan bakal menyuntikkan likuiditas ke dalam perbankan yang menunjukkan tanda-tanda tertekan.

Sedangkan Bank Sentral Eropa (ECB) dilaporkan menyetujui langkah-langkah stimulus baru pada Kamis (12/3) guna membantu zona euro dalam mengatasi kenaikan biaya pandemi , namun menahan suku bunganya tidak berubah.

“Mereka (ECB) sangat merasakan tekanan untuk setidaknya melakukan sesuatu karena setiap bank sentral lainnya menurunkan suku bunga atau melakukan front multi-kebijakan yang akan membantu bank dan ,” ujar Erik Bregar, kepala strategi valas di Exchange Bank of Kanada di Toronto, seperti dilansir Reuters melalui Antara.

Federal Reserve Bank of New York beberapa jam kemudian mengumumkan bakal mengenalkan 1,5 triliun dolar AS dalam operasi repo baru pekan ini dan mulai membeli berbagai surat utang jatuh tempo sebagai bagian dari pembelian surat utang pemerintah bulanan untuk meredam kepanikan yang diakibatkan krisis . Sayangnya langkah itu dinilai tak menstabilkan mata uang dan , lantaran semakin meningkatkan permintaan dolar AS.

“Kami tidak berpikir ini dapat membalikkan sentimen risiko – itu tidak dapat mencegah perlambatan konsumsi dan kegiatan ekonomi yang akan datang,” ungkap Elsa Lignos, kepala global strategi valas di RBC Capital Markets di London.

Dari dalam negeri, menurut Analis Global Kapital Investama Alwi Assegaf sentimen virus corona masih akan membayangi gerak rupiah di akhir pekan ini. Apalagi karena World Health Organization (WHO) baru menetapkan virus corona sebagai kasus pandemik. “Amerika Serikat sudah mulai terimbas, beberapa bagian Eropa, khususnya Italia semakin parah. Jadi kekhawatiran pasar semakin besar dan pada akhirnya membuat safe haven semakin diminati,” katanya seperti dikutip Kontan.

Ekonom Bank Mandiri Reny Eka Puteri menambahkan, upaya-upaya yang dilakukan di dalam negeri juga belum banyak membantu menopang rupiah. “Intervensi BI hari ini dengan melakukan buyback di pasar obligasi ternyata belum cukup meredam gejolak yang terjadi di pasar currency saat ini. Rupiah masih akan berada dalam tren negatif,” ungkapnya.

Loading...