The Fed Tahan Suku Bunga, Rupiah Naik Tipis di Pembukaan

Rupiah - economy.okezone.comRupiah - economy.okezone.com

Jakarta dibuka menguat sebesar 2,5 poin atau 0,02 persen ke posisi Rp14.035,5 per AS di awal pagi hari ini, Kamis (12/12). Kemarin, Rabu (11/12), Garuda berakhir terdepresiasi 18 poin atau 0,13 persen ke level Rp14.038 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the Greenback terhadap sejumlah mata uang utama terpantau melemah. Pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB, indeks dolar AS jatuh ke level terendah dalam empat bulan, yakni sebesar 0,33 persen menjadi 97,095. Level tersebut bahkan disebut angka terendah sejak 9 Agustus. Kurs dolar anjlok usak Federal Reserve memutuskan untuk menahan .

Ketua Jerome Powell menuturkan bahwa kenaikan inflasi yang signifikan dan persisten dibutuhkan untuk menaikkan suku bunga. sendiri mempertahankan suku bunga acuannya pada kisaran target 1,50 persen sampai 1,75 persen, dan komite penetapan suku bunga mengungkapkan setelah pertemuan kebijakan dua hari bahwa mereka memprediksi Amerika Serikat moderat dan pengangguran rendah hingga pemilihan presiden tahun depan.

“Tekanan the Fed untuk mempertahankan lingkungan keuangan yang akomodatif akhirnya akan bermain melawan greenback,” ujar Juan Perez, pedagang mata uang senior dengan Tempus, Inc. di Washington, seperti dilansir Antara.

Saat ini kenaikan suku bunga kurang dibutuhkan apabila dibandingkan pada siklus penurunan suku bunga pertengahan 1990, kata Powell. “Bar untuk kenaikan suku bunga tetap lebih tinggi dari pada bar untuk menurunkan suku bunga lebih lanjut, tetapi secara keseluruhan Anda melihat Fed cukup percaya diri tentang arah ekonomi dan memperkirakan inflasi tetap di bawah tekanan untuk periode waktu yang lama,” ungkap Karl Schamotta, kepala strategi pasar di Cambridge Global Payments di Toronto.

“Pelaku pasar akan mengawasi pertemuan Bank Sentral Eropa (ECB) besok, tetapi sebagian besar akan tetap fokus pada apa yang terjadi pada Sabtu (14/12/2019) sehubungan dengan negosiasi perdagangan AS-China,” imbuhnya.

Analis Monex Investindo Faisyal menuturkan, rupiah sebelumnya melemah lantaran Trump masih belum memberi kejelasan terkait keputusan penambahan tarif ke China pada 15 Desember 2019 depan. Ia pun berpendapat, bila The Fed menahan suku bunga maka rupiah akan berpotensi untuk kembali terkoreksi. “Jika The Fed mempertahankan suku bunga maka rupiah Kamis (12/9) berpotensi kembali melemah di rentang Rp14.000 per dolar AS hingga Rp14.100 per dolar AS,” ujarnya, seperti dikutip dari Kontan.

Loading...