Meski Data Cadangan Devisa Naik, Pagi Ini Rupiah Justru Terkoreksi

Rupiah - manado.tribunnews.comRupiah - manado.tribunnews.com

Jakarta mengawali pada pagi hari ini, Rabu (10/6), dengan pelemahan sebesar 37,5 poin atau 0,27 persen ke level Rp13.927,5 per AS. Sebelumnya, Selasa (9/6), kurs mata uang Garuda berakhir terdepresiasi 5 poin atau 0,04 persen ke posisi Rp13.890 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau melemah. Pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, indeks dolar AS turun 0,3 persen jadi 96,334 lantaran bursa Amerika Serikat tertatih usai reli kuat yang mendorong Nasdaq ke level tertinggi sepanjang masa.

Kecuali untuk Nasdaq, saham-saham Amerika Serikat mayoritas lebih rendah lantaran cenderung bersikap hati-hati melihat ke depan untuk pernyataan terkait kebijakan moneter pada akhir pertemuan di hari Rabu waktu setempat.

“Ada risiko gelombang kedua infeksi COVID-19, yang saya pikir sangat besar, dan saya tidak memperkirakan memperhitungkan ini. Saya tidak akan terkejut jika kembali ke gagasan bahwa kita belum benar-benar keluar dari kesulitan. Tapi saya tidak tahu kapan itu akan terjadi,” ujar Momtchil Pojarliev, kepala mata uang di BNP Asset Management di New York, seperti dikutip dari Antara.

Para investor kini sedang menanti hasil rapat The Fed. Beredar spekulasi bahwa The Fed kemungkinan mengadopsi target-target imbal hasil pada obligasi, atau sejumlah tindakan lain untuk melandaikan imbal hasil jangka panjang.

“Sementara kita melihat jeda dalam momentum baru-baru ini untuk beberapa mata uang asing terhadap greenback, kami tidak siap untuk menumpuk ke dalam dolar AS sampai kami mendengar dari Powell dan teman-teman. Jika the Fed tetap pada jalur mengatakan tidak pada suku bunga negatif dan menghindari secara serius membuka pintu untuk pengendalian kurva imbal hasil kita bisa melihat kenaikan dalam dolar AS terus berlanjut,” ungkap Wells Fargo dalam catatannya.

Sementara itu, menurut Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim, rupiah berpeluang untuk menguat pada perdagangan hari ini. Penguatan rupiah kemungkinan berasal dari domestik, yakni data yang naik USD2,6 miliar. Hal ini sekaligus menandakan bahwa aliran dana asing kembali masuk ke pasar valas. “Masih dari dalam negeri, apalagi arus modal asing terus masuk akibat suku bunga yang relatif tinggi dibandingkan dengan suku bunga negara lain,” ujar Ibrahim, seperti dilansir Kontan.

Loading...