Kondisi Geopolitik Mulai Stabil, Rupiah Dibuka Stagnan

Rupiah - citypost.idRupiah - citypost.id

Jakarta dibuka relatif stagnan di angka Rp13.854 per AS. Namun kemudian sekitar pukul 08.23 WIB rupiah bergerak menguat sebesar 2,5 poin atau 0,02 persen ke level Rp13.851,5 per AS di awal pagi hari ini, Jumat (10/1). Sebelumnya, Kamis (9/1), mata uang Garuda berakhir terapresiasi 46 poin atau 0,33 persen ke posisi Rp13.854 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah mata uang utama terpantau menguat. Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, indeks dolar AS naik 0,15 persen menjadi 97,4490 lantaran kekhawatiran atas meningkatnya ketegangan di Timur Tengah mulai mereda.

Sementara itu, rupiah diprediksi bakal menguat terhadap dolar AS pada perdagangan hari ini karena kondisi fundamental yang membaik serta pergerakan teknikal yang mengindikasikan rupiah berpotensi untuk bergerak naik. Menurut Ekonom Bank Indonesia (BNI) Ryan Kiryanto, fundamental domestik akan jadi sentimen utama yang menggerakkan rupiah hari ini.

“Secara teknikal arah gerak masih cenderung menguat. Tapi yang terpenting adalah faktor domestik kepercayaan pasar terhadap rupiah,” kata Ryan, seperti dilansir Kontan. Lebih lanjut ia menjelaskan, faktor domestik yang dimaksud adalah meningkatnya (cadev) pada akhir Desember 2019 naik USD2,55 miliar jadi USD129,18 miliar.

Cadangan devisa Indonesia yang meningkat dinilai mampu mendorong penguatan rupiah. Meningkatnya devisa negara juga menandakan perkembangan makro ekonomi yang relatif stabil. “Pertumbuhan ekonomi 5,05% dan inflasi 2,72% membuat persepsi investor asing masih positif terhadap Indonesia,” paparnya.

Draf Omnibus Law yang akan segera rampung dalam waktu dekat pun ikut menyumbangkan sentimen positif untuk rupiah. Dengan diterbitkannya Omnibus Law diharapkan bisa memudahkan proses perizinan di Indonesia, sehingga meningkatkan kegiatan ekspor impor.

Di sisi lain, analis PT Pemeringkat Efek Indonesia (Pefindo) Fikri C Permana berpendapat jika rupiah hari ini akan bergerak stabil cenderung melemah walau kondisi geopolitik saat ini mulai kondusif. Rupiah justru akan memperoleh tekanan dari tingginya minyak. “Minyak menjadi salah satu penyumbang defisit perdagangan terbesar Indonesia,” ujarnya.

Loading...