Data Ekonomi China Pulih, Rupiah Pagi Ini Malah Jatuh Tersungkur

Rupiah - www.merdeka.comRupiah - www.merdeka.com

Jakarta – Kurs mengawali pagi hari ini, Rabu (1/4), dengan pelemahan sebesar 15 poin atau 0,09 persen ke level Rp16.325 per AS menurut data dari Index. Sebelumnya, Selasa (31/3), mata uang Garuda berakhir terapresiasi 28 poin atau 0,18 persen ke posisi Rp16.310 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau melemah. Pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, indeks dolar AS turun 0,2 persen jadi 99,042. USD mencapai angka 102,99, level tertinggi dalam lebih dari 3 tahun di awal bulan ini lantaran aksi jual pasar memicu perburuan lebih lanjut terhadap dolar AS.

Dolar AS sendiri anjlok karena terhimpit langkah-langkah yang ingin memastikan terdapat cukup likuiditas dalam sistem keuangan global. Pada awal sesi perdagangan, dolar AS memperoleh keuntungan dari permintaan akhir tahun fiskal dan triwulanan fiskal dari manajer portofolio dan perusahaan-perusahaan Jepang, namun perdagangan cukup volatil, dengan dolar AS bergantian ada di antara keuntungan dan kerugian.

Dolar AS mengurangi kenaikannya usai pada Selasa (31/3) The Fed memperluas kemampuan puluhan bank sentral asing untuk mengakses dolar AS selama krisis . “Dolar akan kesulitan memperpanjang kenaikannya secara signifikan saat ini hanya karena pasokan relatif uang tunai yang datang dari The Fed dalam dolar,” ujar Shaun Osborne, kepala strategi valas di Scotiabank di Toronto, seperti dikutip dari Antara.

Rupiah kemarin sedikit tertolong karena sentimen eksternal yaitu mulai diliriknya lagi aset berisiko usai data PMI manufaktur di China pada Maret 2020 yang membaik. Menurut Ekonom Bank Permata Josua Pardede, rupiah berpotensi menguat setelah Presiden Joko Widodo meluncurkan besaran stimulus untuk penanganan virus corona (Covid-19) di Indonesia.

Besarnya tambahan stimulus untuk menangani pandemi global ini adalah Rp405,1 triliun. “Stimulus yang ditujukan untuk penanganan aspek masyarakat dan ekonomi, serta bantuan, akan menjadi sebagai bantalan ekonomi. Hal ini membuat pada awal perdagangan, nilai tukar rupiah diperkirakan menguat,” ujar Josua, seperti dilansir Kontan.

Analis Monex Investindo Futures Faisyal juga menuturkan, data ekonomi AS yang dirilis pada Rabu (1/4) dini hari berpotensi menyumbang sentimen positif untuk rupiah. Akan tetapi, data itu harus di bawah ekspektasi pasar. “Selain itu, ada negosiasi antara Presiden AS Donald Trump dan Presiden Rusia Vladimir Putin yang membahas minyak. Ini bisa memicu optimisme pelaku pasar sehingga akan bisa memberi dorongan untuk penguatan rupiah,” tandasnya.

Loading...