Dolar AS Tertekan Yen & Euro, Kurs Rupiah Berhasil Rebound di Rabu Pagi

Rupiah - www.savemoneychanger.comRupiah - www.savemoneychanger.com

Jakarta rupiah mengawali perdagangan pagi hari ini, Rabu (22/1), dengan penguatan sebesar 4 poin atau 0,03 persen ke posisi Rp13.665 per dolar AS. Sebelumnya, Selasa (21/1), mata uang Garuda berakhir terdepresiasi 30 poin atau 0,22 persen ke level Rp13.669 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau melemah terhadap yen dan euro. Dolar dilaporkan turun 0,10 persen terhadap yen Jepang jadi USD110,07. Di samping itu, dolar AS juga tertekan 0,06 persen terhadap franc Swiss ke level USD0,9673. Pelemahan USD ini salah satunya disebabkan optimisme Bank of Japan terhadap negara tersebut.

BOJ mendorong perkiraan pertumbuhan Jepang dan sangat optimis terhadap prospek . Meski mereka mengakui bahwa risiko yang tengah berlangsung menjadi pertimbangan untuk mengurangi kebijakan stimulus besar-besaran ke depannya.

Di sisi lain, euro pun menguat 0,15 persen terhadap dolar AS menjadi USF1,1111 lantaran data ekonomi yang melampaui proyeksi di wilayah tersebut. Berdasarkan survei lembaga penelitian ZEW Jerman, jauh lebih besar dibandingkan ekspektasi pada Januari 2020. Euro juga melaju berkat ekspektasi bank sentral Eropa yang memperkirakan ekonomi akan lebih baik lagi. “Kita bisa melihat optimisme sedikit lebih hati-hati di sana, yang membuat orang sedikit lebih bersemangat tentang Euro,” ujar Ahli Strategi Senior TD Securities Mazen Issa, seperti dikutip Reuters.

Dari dalam negeri, rupiah diprediksi masih akan melemah di perdagangan hari ini. Menurut Analis Monex Investindo Futures Ahmad Yudiawan, aksi profit taking masih menjadi faktor utama. “Selain itu, tadi pagi International Monetary Fund (IMF) memberikan sentimen yang negatif terhadap aset berisiko. Sebab mereka kembali memangkas proyeksi pertumbuhan global dari 3,4% menjadi 3,3% dan ini masih akan membebani rupiah pada esok hari (hari ini),” ujar Yudi, seperti dilansir Kontan.

Head of Economic & Research UOB Indonesia Enrico Tanuwidjaja menambahkan, yang sedang mewabah di China juga termasuk hal yang mendorong pelemahan rupiah hari ini. “Ada faktor risiko kekhawatiran virus di China akan menyebar. Meski masih terlalu awal, ini bisa menjadi sentimen negatif bagi rupiah esok hari (hari ini). Tapi faktor utamanya rupiah akan terkonsolidasi,” jelasnya.

Loading...