Ditunjang Sentimen Domestik & Eksternal, Rupiah Stabil di Zona Hijau

Rupiah - www.komoditas.co.idRupiah - www.komoditas.co.id

Jakarta – Nilai tukar Garuda mengawali pagi hari ini, Jumat (30/8), dengan penguatan sebesar 15 poin atau 0,11 persen ke level Rp14.222,5 per AS. Sebelumnya, Kamis (29/8), berakhir terapresiasi 20 poin atau 0,14 persen ke posisi Rp14.239 per USD.

Adapun indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah mata uang utama terpantau menguat. Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, indeks dolar AS dilaporkan naik 0,30 persen jadi 98,5070 lantaran meningkatnya kekhawatiran atas tensi perdagangan antara Amerika Serikat dengan China yang sudah mulai mereda.

Menurut pernyataan Kementerian Perdagangan China (MOC), tim negosiasi dan perdagangan China dan AS telah mempertahankan komunikasi yang efektif dan kabarnya telah berdiskusi untuk mengadakan pertemuan di Amerika Serikat pada bulan September 2019 mendatang. “Sangat penting saat ini untuk menciptakan kondisi yang diperlukan bagi kedua pihak untuk melanjutkan konsultasi,” ujar Gao Feng, juru bicara MOC, seperti dilansir Antara.

Di sisi lain, penguatan rupiah kata Ekonom Bank Permata, Josua Pardede ditunjang oleh posisi yield bertenor 10 tahun Indonesia yang dinilai masih atraktif. Pada Kamis (29/8), yield acuan tenor 10 tahun ada di posisi 7,34 persen. “Trennya yield US Treasury turun, sementara imbal hasil SUN domestik cukup atraktif sehingga bisa menguatkan rupiah,” ujar Josua, seperti dilansir Kontan.

Di samping itu, pernyataan Bank Indonesia (BI) juga mampu menyokong posisi rupiah supaya tetap stabil di pasar spot. Meningkatnya optimisme pasar terhadap hasil negosiasi perdagangan antara AS dengan China pada bulan September mendatang juga menjadi suntikan energi bagi rupiah untuk bergerak cenderung menguat.

Pada hari Jumat ini gerak rupiah di pasar spot diprediksi akan dipengaruhi oleh ekonomi Amerika Serikat kuartal II 2019 yang dirilis pada Kamis (29/8) pukul 20.30. Para pelaku pasar memperkirakan bahwa ekonomi AS akan turun dari posisi 2,1 persen menjadi 2 persen dari kuartal sebelumnya. “Jika data ekonomi AS lebih rendah maka dolar AS akan tertekan dan rupiah berpotensi menguat,” tandas Josua.

Loading...