Dolar AS Masih Merana, Rupiah Menguat 55 Poin di Awal Dagang

Rupiah - www.medanbisnisdaily.comRupiah - www.medanbisnisdaily.com

Jakarta dibuka menguat sebesar 55 poin ke angka Rp14.525 per AS di awal pagi hari ini, Jumat (24/7). Kemudian lanjut menguat 62,5 poin atau 0,43 persen menjadi Rp14.517,5/USD. Garuda berakhir terapresiasi 70 poin atau 0,48 persen ke posisi Rp14.580 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the Greenback terhadap sejumlah mata uang utama terpantau terjun ke level terendah dalam hampir dua tahun. Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, indeks dolar AS terpantau turun 0,3 persen jadi 94,725 usai menginjak level terendah sejak akhir September 2018. Hal ini ditengarai karena para pelaku terus menjual USD didorong oleh perkiraan lonjakan kasus (Covid-19) yang akan membuat perekonomian AS sulit untuk bangkit.

“Para spekulan membuat banyak mata uang G10 underweight (cenderung terus menurun) sehingga ada ruang untuk momentum ini terus berjalan. Risiko terbesar bahwa itu berhenti dan dolar mulai mendapatkan kembali pijakannya adalah ekuitas, jika reli ekuitas benar-benar mulai goyah dan kita melihat pergerakan besar lebih rendah maka tiba-tiba kekuatan dolar akan kembali dengan sangat cepat,” ujar Ahli Strategi Mata Uang Wells Fargo Securities, Erik Nelson, di New York, seperti dikutip dari Antara.

Kenaikan jumlah klaim pengangguran di AS pekan lalu untuk pertama kalinya dalam 4 bulan juga membuat dolar AS makin tertekan. Dolar AS telah kehilangan hampir 8 persen sejak ada di level tertinggi 20 Maret 2020, saat krisis pendanaan dolar AS menyebabkan lonjakan permintaan.

Menurut Head of Economics Research Pefindo Fikri C Permana, rupiah berpeluang untuk melanjutkan penguatannya pada perdagangan hari ini. Namun Fikri memperkirakan kenaikan rupiah cenderung terbatas. “Sentimen resesi Korea Selatan diperkirakan akan berdampak pada semua mata uang Asia, termasuk rupiah. Selain itu, kekhawatiran BI akan kontraksi dan resesi Indonesia di kuartal II dan kuartal III diperkirakan akan memperberat laju penguatan rupiah,” kata Fikri, seperti dilansir Kontan.

Sedangkan Presiden Komisioner HFX International Berjangka Sutopo Widodo berpendapat lain. Sutopo memprediksi rupiah akan bergerak flat hari ini karena dipengaruhi oleh sentimen resesi dan kasus positif Covid-19.

Loading...