Hasil Kesepakatan Dagang AS-China Meragukan, Rupiah Lagi-Lagi Terhempas Pagi Ini

Rupiah - www.jawapos.comRupiah - www.jawapos.com

Jakarta mengawali perdagangan pagi hari ini, Rabu (16/10), dengan pelemahan sebesar 11,5 poin atau 0,08 persen ke posisi Rp14.177,5 per AS. Sebelumnya, Selasa (15/10), kurs Garuda berakhir terdepresiasi 26 poin atau 0,19 persen ke level Rp14.166 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau melemah. Pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, indeks dolar AS dilaporkan turun 0,16 persen menjadi 98,2867 di tengah penguatan pound sterling Inggris, level tertinggi sejak pertengahan Mei 2019.

Penguatan pound tersebut terjadi setelah laporan bahwa para pejabat mendekati kesepakatan untuk Inggris keluar dari Uni Eropa (). Menurut laporan News, negosiator Inggris dan Uni Eropa hampir mencapai kesepakatan rancangan dan mereka berharap bahwa kesepakatan bisa dicapai pada Selasa tengah malam (15/10) waktu setempat.

Di sisi lain, rupiah melemah karena perundingan perang dagang yang dilakukan antara Amerika Serikat dan China pekan lalu kembali membuat pasar ragu. Pasalnya, China mengklaim jika pihak mereka masih mempelajari dan belum menandatangani perjanjian tersebut. Hal itu pula yang membuat rupiah kembali terseok-seok.

Menurut Ekonom Bank BCA David Sumual, pernyataan China yang mengungkapkan bahwa mereka masih mempelajari perjanjian dengan Amerika Serikat telah memunculkan keraguan di pasar terkait hasil kesepakatan kemarin. Apalagi karena China diperkirakan masih bisa merevisi beberapa poin yang belum mereka setujui. “Walaupun Trump menyatakan AS dan China sudah sepakat secara parsial dan belum semuanya, tapi pasar kembali ragu karena China mengatakan masih mempelajari,” kata David, seperti dilansir Kontan.

Sementara itu, sentimen eksternal lain yang memperkuat posisi dolar AS adalah terkait perizinan yang diperoleh dari World Trade Organization (WTO). WTO dikabarkan resmi mengizinkan AS menarik impor hingga USD 7,5 miliar terhadap -barang Uni Eropa usai keputusan arbiter kasus subsidi untuk Airbus.

Dari dalam negeri, rupiah kembali lemah usai laporan Badan Pusat Statistik (BPS) yang menyebutkan jika September 2019 neraca perdagangan Indonesia mengalami defisit sebesar USD160,5 juta dengan defisit sepanjang tahun berjalan sebesar USD1,95 miliar.

Akan tetapi, walau neraca dagang Indonesia defisit, pihak Bank Indonesia terus melakukan intervensi lewat pasar valas dan obligasi dalam perdagangan DNDF. “Walaupun tersebut kurang membuahkan hasil yang maksimal akibat data eksternal yang kurang bersahabat, namun mata uang garuda fluktuatifnya masih bisa terkendali dengan baik,” kata Direktur PT Garuda Berjangka Ibrahim.

Loading...