Rupiah Berhasil Rebound Meski Kekhawatiran Virus Corona Meningkat

Rupiah - Tribunnews.comRupiah - Tribunnews.com

Jakarta dibuka menguat sebesar 20 poin persen ke level Rp13.624 per AS di awal pagi hari ini, Rabu (29/1). Sebelumnya, Selasa (28/1), Garuda berakhir terdepresiasi 29 poin atau 0,21 persen ke posisi Rp13.644 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau menguat 0,19 persen menjadi 98,137, level tertinggi sejak awal Desember 2019 lalu dan berhasil membawa kenaikan sepanjang bulan ini sebesar 1,8 persen. Kekhawatiran kondisi akibat virus Corona (koronavirus) di China masih terus mendukung posisi mata uang safe have pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB.

Walaupun sudah agak stabil usai aksi jual pada Senin (27/1) lalu, penghindaran risiko di mata uang bertahan dengan dolar Australia yang mengalami pelemahan terbesar dan USD melambung ke level tertinggi 8 minggu terhadap sejumlah mata uang .

“Penentuan posisi risk-off (penghindaran risiko) telah mendingin meskipun sentimen investor jelas tetap waspada dihadapkan pada teka-teki ‘risiko tak terduga’ epistemologis tentang seberapa buruk dan seberapa luas dan seberapa ekonomis wabah Koronavirus akan merusak,” demikian kata analis di Action Economics, seperti dilansir Antara.

Menurut Analis Global Kapital Investama Alwi Assegaf, pada hari ini rupiah akan cenderung bergerak datar dengan potensi melemah. Setidaknya terdapat dua sentimen eksternal yang diperkirakan akan menahan laju rupiah hari ini. Hal pertama adalah isu penyebaran virus corona yang bukan hanya terjadi di Wuhan, China. Kekhawatiran menyebarnya virus ini telah memicu investor melarikan asetnya ke aset safe haven.

Di sisi lain, virus corona juga berpotensi memperlambat global. Padahal ekonomi global baru pulih setelah ditandatanganinya kesepakatan dagang fase satu antara AS dengan China. “Virus corona akan memangkas pertumbuhan ekonomi China 1,2 poin persentase. Jadi perkiraan 6% menjadi 4,8%,” kata Alwi, seperti dilansir Kontan.

Di samping itu, harapan pasar terhadap hasil FOMC pada tanggal 29 juga bisa menekan rupiah. Pasar meyakini The Fed masih akan menahan suku bunga acuan dan indeks consumer confidence AS bakal meningkat dibandingkan periode sebelumnya. “Dari dua faktor di atas pergerakan rupiah akan cenderung flat, kalaupun terjadi pelemahan mungkin agak tipis,” tandasnya.

Loading...