Kurs Rupiah Dibuka Stagnan di Level Rp 13.760/USD

Rupiah - www.solopos.comRupiah - www.solopos.com

Jakarta dibuka stagnan di level Rp 13.760 per AS pada awal pagi hari ini, Kamis (8/3). Dalam penutupan sebelumnya, mata uang Garuda berakhir menguat 16 poin atau 0,12 persen ke posisi Rp 13.760 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur gerak The Greenback terhadap sejumlah mata uang utama terpantau naik tipis sebesar 0,02 persen menjadi 89,645 di akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB usai Gary Cohn, penasihat ekonomi utama Presiden Amerika Serikat Donald Trump mengundurkan diri dari jabatannya.

Kepergian Cohn yang selama ini menentang penetapan baja dan aluminium dinilai telah menimbulkan kekhawatiran terkait potensi perang dagang dalam waktu dekat. Sementara itu, dari sektor ekonomi, berdasarkan laporan Ketenagakerjaan Nasional ADP, lapangan kerja sektor swasta AS naik 235.000 dari Januari ke Februari 2018, melebihi konsensus pasar.

Kemudian Departemen Perdagangan AS melaporkan bahwa defisit perdagangan barang dan jasa menginjak angka USD 56,6 miliar pada bulan Januari 2018, meningkat USD 2,7 miliar dari USD 53,9 miliar pada Desember 2018 yang telah direvisi.

Di sisi lain, meski rupiah sempat menguat karena adanya intervensi Bank (BI), cadangan devisa turun menjadi USD 128,06 miliar. Oleh sebab itu hari ini gerak rupiah di pasar spot exchange diprediksi akan kembali terkoreksi. Terlebih karena Moody’s kemungkinan akan menunda kenaikan peringkat utang . “Mungkin rupiah akan melemah tipis,” kata David Sumual, ekonom PT Bank Central Asia (BCA), seperti dilansir Kontan.

Padahal sebelumnya rencana dinaikkannya peringkat utang Indonesia sempat memberi suntikan sentimen untuk rupiah. Akan tetapi setelah pemerintah menetapkan batubara domestik untuk PLN, tersiar kabar mengenai penundaan diberikannya rating tersebut.

Senada, Lukman Leong, analis PT Valbury Sekuritas Indonesia juga berpendapat masih belum ada sentimen positif yang bisa menyokong gerak rupiah. Untuk sementara itu hanya data inflasi saja yang menurutnya dapat menggerakkan mata uang Garuda. “Kalau data cadev dan penundaan rating Moody’s pengaruhnya sedikit,” ungkapnya.

Loading...