Kurs Rupiah Dekati Rp 12.000 Per USD, Pemerintah Waspadai Capital Outflow

JAKARTA – Staf Khusus Presiden Bidang dan Pembangunan Firmanzah menyatakan, salah satu risiko paling nyata dari kenaikan suku bunga adalah capital outflow atau kaburnya dana asing dari emerging market ke AS.

”Di Indonesia, tanda-tandanya sudah terjadi sejak semester dua tahun ini, jadi kita harus waspada,” ujarnya kemarin (16/9). Sebagaimana diwartakan, pasar finansial tengah mengarahkan mata ke Negeri Paman Sam. Hal itu terkait aksi The Fed yang menjalankan program tapering off atau pengurangan stimulus moneter serta rencana kenaikan suku bunga yang diproyeksi pasar dilakukan pada pekan ini.

Menurut mantan dekan termuda di FE Universitas Indonesia itu, sejumlah indikator ekonomi Indonesia sudah mengalami tekanan pada paro kedua tahun ini. Misalnya nilai tukar , , , serta kecenderungan naiknya suku bunga. ”Termasuk perlambatan pertumbuhan ekonomi,” katanya.

kurs16sept2014Khusus untuk rupiah yang menjadi acuan pasar finansial, dalam dua hari terakhir rupiah memang tertekan dan mendekati level psikologis Rp 12.000. Data Jakarta Interbank Spot Dollar Offered Rate (Jisdor) yang dirilis (BI) kemarin menunjukkan, rupiah sudah menembus Rp 11.903 per USD atau melemah 28 poin dibandingkan penutupan Senin (15/9) yang di posisi Rp 11.875 per USD.

Sementara itu, depresiasi di pasar spot sudah lebih tajam. Data Bloomberg menunjukkan, Senin lalu rupiah melemah tajam Rp 149 poin ke Rp 11.971 per USD. Posisi tersebut kembali bertahan pada Selasa kemarin. Padahal, banyak utama di kawasan Asia Pasifik lainnya yang sudah menguat terhadap USD setelah pada Senin sebelumnya kompak melemah. (owi/c22/oki/JawaPos)

Loading...