Terhempas Sentimen Eksternal, Rupiah Pagi Ini Melemah ke Level Rp14.170/USD

Rupiah - money.kompas.comRupiah - money.kompas.com

Jakarta – Nilai tukar dibuka melemah sebesar 8 poin ke posisi Rp14.170 per AS di awal pagi hari ini, Rabu (9/10). Sebelumnya, Selasa (8/10), kurs Garuda berakhir terapresiasi tipis 1 poin atau 0,01 persen ke level Rp14.162 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah mata uang utama terpantau menguat. Pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, indeks dolar AS dilaporkan naik 0,16 persen menjadi 99,1270 lantaran Ketua Federal Reserve Jerome Powell menahan diri untuk tak melakukan penurunan suku bunga acuan lebih lanjut, usai data menunjukkan penurunan tak terduga tingkat Amerika Serikat.

Akan tetapi, dolar AS dalam posisi melemah terhadap yen Jepang usai Departemen Luar Negeri AS menyatakan bahwa pihaknya sudah menerapkan pembatasan visa pada pemerintah China dan pejabat Partai Komunis yang dipercaya bertanggung jawab terhadap penahanan atau penyalahgunaan minoritas muslim di Provinsi Xinjiang.

Departemen Perdagangan Amerika Serikat pada Senin (7/10) membuat daftar hitam -perusahaan China atas perlakuan Beijing terhadap kaum mayoritas etnis minoritas muslim dan Presiden AS Donald Trump mengungkapkan bahwa kesepakatan perdagangan cepat adalah suatu hal yang mustahil, demikian seperti dilansir dari Antara.

Di akhir dagang USD menguat usai Ketua Jerome Powell mengatakan belum akan menurunkan suku bunga lebih lanjut. “Nada bicaranya dan pengingat bahwa pertemuan FOMC berikutnya masih beberapa minggu lagi menunjukkan bahwa penurunan suku bunga Oktober jauh dari kesepakatan untuk dilakukan yang diyakini berjangka,” ujar Paul Ashworth, kepala ekonom AS di Capital Economics.

Sebagai informasi, produsen AS secara tak terduga mengalami penurunan pada September 2019, sehingga mengarah ke kenaikan tahunan terkecil dalam kurun waktu hampir 3 tahun. Hal ini ditengarai dapat memberi ruang bagi The Fed untuk memotong suku bunga lagi.

Sementara itu, rupiah kemarin dinilai mengalami penguatan tipis lantaran terjadi tarik menarik antara data global dengan domestik. Menurut Direktur PT Garuda Berjangka Ibrahim, data global sebagian besar memberi sentimen negatif, sedangkan data domestik menahan penurunan rupiah.

Dari faktor eksternal, satu-satunya sentimen positif adalah kebijakan Gubernur The Fed Jerome Powell yang mengindikasikan rencana pemangkasan suku bunga lagi sebesar 25 basis poin. Kini pasar tengah menanti rilis notulensi rapat tersebut. “Keputusan itu sepertinya tidak bulat dan masih ada anggota yang ingin kebijakan moneter tidak terlampau dovish,” kata Ibrahim, seperti dikutip Kontan.

Loading...