Kekhawatiran Konflik AS-Iran Mereda, Rupiah Mencuat ke Level Rp13.860/USD

Rupiah - kabarbisnis.comRupiah - kabarbisnis.com

Jakarta diperdagangkan menguat sebesar 40 poin atau 0,29 persen ke level Rp13.860 per di awal perdagangan pagi hari ini, Kamis (9/1). Kemarin, Rabu (8/1), Garuda berakhir terdepresiasi 22 poin atau 0,16 persen ke posisi Rp13.900 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur nilai tukar dolar AS terhadap sejumlah mata uang utama terpantau menguat. Pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB, indeks dolar AS dilaporkan naik 0,30 persen menjadi 97,3000 usai kekhawatiran investor mereda setelah pernyataan Presiden Amerika Serikat Donald Trump terkait serangan balasan Iran.

Pada Rabu waktu setempat, Iran sempat meluncurkan rudal balistik di pangkalan-pangkalan Irak yang menampung pasukan AS sebagai serangan balasan atas pembunuhan yang dilakukan AS terhadap jenderal Iran, Qassem Soleimani.

Pasca serangan tersebut, Trump mengatakan di Gedung Putih bahwa tidak ada korban AS yang jatuh dari serangan tersebut dan bahwa “Iran tampaknya mundur,” dan menyebutnya sebagai “hal yang baik” untuk semua pihak terkait, demikian seperti dilansir Xinhua.

Menurut Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual, konflik antara AS dan Iran itu bukan hanya dapat merugikan kedua , tetapi dalam jangka panjang juga dapat memperburuk kondisi ekonomi . “Untuk jangka pendek konflik akan berdampak bagi popularitas Presiden AS Donald Trump, tapi di jangka panjang itu akan buruk bagi kondisi ekonomi ,” ujar David, seperti dilansir Kontan.

Dalam jangka pendek, sejumlah aset safe haven terlihat diuntungkan dari sentimen konflik antara AS-Iran, seperti mata uang yen Jepang dan dolar AS yang cenderung menguat. Untuk rupiah yang bukan merupakan safe haven rupanya bergerak cukup stabil karena ditopang oleh sentimen domestik yang positif.

Misalnya saja data cadangan devisa per Desember 2019 yang dilaporkan naik USD2,6 miliar jadi USD129,2 miliar. “Cadev cukup baik didukung peningkatan inflow dan mendorong pasokan dollar AS naik. Jadi posisi cadev saat ini sangat aman dan trennya naik terus,” beber David.

David pun yakin bahwa AS dan Iran akan berpikir panjang untuk melanjutkan konflik tersebut dalam jangka panjang, terlebih karena konsekuensi kerugian ke depannya justru lebih besar. “Tiga hal menjadi perhatian utama bagi pergerakan rupiah tahun ini, yaitu sentimen perang dagang, perkembangan kondisi politik di Timur Tengah dan reaksi suku bunga The Fed terhadap gejolak ,” pungkas David.

Loading...