Masih Dipengaruhi Faktor Eksternal, Rupiah Pagi Ini Belum Beranjak dari Zona Merah

Rupiah - www.cnnindonesia.comRupiah - www.cnnindonesia.com

Jakarta mengawali pagi hari ini, Jumat (9/4), dengan pelemahan sebesar 12,5 poin ke level Rp14.547,5 per AS. Kemudian, rupiah lanjut melemah 5 poin atau 0,03 persen ke Rp14.540/USD. Kemarin, Kamis (8/4), Garuda berakhir terdepresiasi 40 poin atau 0,28 persen ke posisi Rp14.535 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah mata uang utama terpantau melemah. Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, indeks dolar AS turun 0,35 persen jadi 92,091, level terendah sejak 23 Maret 2021. Indeks dolar AS anjlok menyusul penurunan imbal hasil obligasi , usai data menunjukkan kenaikan yang signifikan dalam klaim pengangguran mingguan Amerika Serikat.

Sementara lonjakan klaim pengangguran kemungkinan mengesampingkan tenaga kerja AS yang pulih dengan cepat karena lebih banyak bagian dari AS yang dibuka kembali dan adanya stimulus fiskal. Faktor itu pula yang menahan gerak dolar AS.

“Dengan pasar kerja bergerak ke arah yang salah, itu menggarisbawahi risalah Fed minggu ini yang menekankan bagaimana ekonomi jauh dari apa yang dianggap Fed sehat. Data itu memperkuat sikap dovish Fed kemungkinan akan mempertahankan imbal hasil obligasi pemerintah dan dolar melemah,” ungkap Joe Manimbo, analis pasar senior di Western Union Business Solutions di Washington, seperti dilansir Antara.

Pada Kamis (8/4), Ketua The Fed Jerome Powell mengisyaratkan bahwa bank sentral tak akan mengurangi dukungannya untuk ekonomi AS. Selain itu, ia mencatat bahwa kenaikan -harga yang diperkirakan tahun ini kemungkinan hanya sementara, serta memperingatkan bahwa lonjakan kasus Covid-19 mungkin bisa memperlambat pemulihan.

Di sisi lain, gerak rupiah hari ini kemungkinan bakal bergantung pada data eksternal. Menurut Kepala Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual, gerak rupiah di akhir pekan ini akan dipengaruhi oleh data ekonomi Amerika Serikat. “Salah satu data ekonomi yang akan jadi perhatian pasar adalah klaim pengangguran dan indeks keyakinan di AS,” kata David, seperti dikutip Kontan.

Selain itu, kelanjutan aksi profit taking atau ambil untung di pasar bursa pun menurut David juga menjadi faktor penggerak bagi rupiah. Apabila ternyata aksi profit taking terus berlanjut, maka rupiah diprediksi akan kembali melemah, demikian pula sebaliknya.

Loading...