Rupiah Menguat di Tengah Spekulasi Hasil Pemilihan Presiden AS

Rupiah - www.viva.co.idRupiah - www.viva.co.id

Jakarta Garuda dibuka menguat sebesar 11 poin atau 0,07 persen ke posisi Rp14.699 per dolar AS di awal pagi hari ini, Kamis (8/10). Kemarin, Rabu (7/10), ditutup terapresiasi 25 poin atau 0,17 persen ke level Rp14.710 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau melemah. Pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB, indeks dolar AS turun 0,19 persen menjadi 93,64 saat sentimen risiko membaik di tengah harapan setidaknya beberapa stimulus fiskal baru sebelum pemilihan presiden Amerika Serikat pada 3 November 2020 dan memprediksi prospek kemenangan Demokrat bulan depan.

Pada Selasa (6/10) malam, Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa kongres harus segera memberi 25 miliar dolar AS untuk bantuan penggajian baru bagi maskapai penerbangan angkutan penumpang AS yang merumahkan ribuan pekerja lantaran perjalanan udara merosot di masa pandemi (Covid-19).

“Pernyataan tentang memiliki beberapa opsi mengenai penempatan beberapa rencana stimulus kembali, tentu telah mendukung dan menyuntikkan lebih banyak optimisme, dan Anda dapat melihat itulah mengapa dolar melemah hari ini, itu benar-benar mentalitas risk on (pengambilan risiko),” ujar Minh Trang, valas senior di Silicon Valley Bank di Santa Clara, California, seperti dilansir Antara.

Di sisi lain, tren positif rupiah diperkirakan akan berakhir pada perdagangan hari ini. Menurut Ekonom Samuel Sekuritas Ahmad Mikail, rupiah berpotensi melemah seiring dengan kelanjutan stimulus Amerika Serikat yang masih terkendala.

“Jadi paket stimulus AS senilai US$2,4 triliun ini masih belum mendapatkan respons dari kongres. Untuk deadline-nya sendiri pun masih pada tanggal 10 mendatang, besok pun sepertinya belum ada respons, jadi ketidakjelasan terkait stimulus ini berpeluang menekan kinerja rupiah pada Kamis (8/10),” beber Ahmad, seperti dikutip dari Kontan.

Selain itu, Ahmad berpendapat rilis cadangan devisa (cadev) Indonesia yang diumumkan kemarin ternyata mengalami penurunan sebesar USD1,8 miliar menjadi USD 135,2 miliar. Hal tersebut tentu saja jadi sentimen negatif untuk rupiah.

Loading...