Capitol Hill Rusuh, Rupiah Ikut Terperosok Cukup Dalam di Pembukaan

Rupiah - mediaindonesia.comRupiah - mediaindonesia.com

Jakarta dibuka melemah cukup dalam sebesar 57,5 poin atau 0,41 persen ke angka Rp13.967,5 per AS di awal pagi hari ini, Jumat (8/1). Kemarin, Kamis (7/1), kurs Garuda berakhir terdepresiasi 15 poin atau 0,11 persen ke level Rp13.910 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap enam mata utama terpantau menguat. Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, indeks dolar AS dilaporkan naik 0,53 persen jadi 89,785 usai melonjak ke 89,979. Penguatan USD terjadi saat sedang melihat potensi rebound pada kuartal mendatang dan investor yang telah bertaruh pada euro kini sedang mengambil untung (profit taking).

“Begitu mulai bergerak, seperti yang mereka lakukan kemarin, itu bukanlah pergerakan besar tetapi itu berada di arah yang benar, itulah arah masa depan. Masih diperdebatkan berapa lama waktu yang dibutuhkan vaksin untuk bekerja dan mudah-mudahan mengakhiri pandemi, tetapi begitu itu terjadi, Anda akan mendapatkan pemulihan AS yang jauh lebih kuat dan itu akan menghasilkan dolar yang lebih kuat,” ujar Joseph Trevisani, analis senior di FXStreet.com, seperti dilansir Antara.

Gerak dolar AS cenderung terbatas pada Rabu karena ratusan pendukung Donald Trump menyerbu Capitol AS, berupaya membalikkan kekalahannya dalam pemilu dan menunda berjam-jam pengesahan kemenangan presiden terpilih dari Demokrat, Joe Biden. Kemenangan Biden sendiri meningkatkan ekspektasi terhadap langkah stimulus yang lebih banyak untuk meningkatkan prospek ekonomi.

Menurut Ekonom BCA David Sumual, rupiah kemarin berbalik melemah karena terdampak oleh ketidakpastian kondisi di Amerika Serikat usai kerusuhan di Capitol Hill. Padahal, pada hari yang sama hasil FOMC meetings cenderung membawa dolar AS melemah lantaran The Fed masih menerapkan kebijakan moneter untuk periode jangka panjang.

Sedangkan dari dalam negeri, rupiah juga tertekan oleh sentimen penetapan PSBB (Pembatasan Sosial Berskala Besar) yang diperketat secara terbatas. “Mobilitas masyarakat jadi terbatas ini memberi sentimen negatif ke ekonomi,” papar David, seperti dikutip Kontan.

Loading...