Rupiah Keok Setelah Risalah Pertemuan The Fed Dirilis

Rupiah - www.dbs.idRupiah - www.dbs.id

Jakarta – Kurs rupiah dibuka melemah sebesar 27,5 poin atau 0,19 persen ke angka Rp14.522,5 per AS di awal perdagangan pagi hari ini, Kamis (8/4). Kemarin, Rabu (7/4), Garuda berakhir terapresiasi 10 poin atau 0,07 persen ke posisi Rp14.495 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur gerak the terhadap enam mata uang utama terpantau bergerak terbatas. Pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB, indeks dolar AS turun 0,181 persen jadi 92,473, usai risalah pertemuan Maret 2021 menunjukkan bahwa bank sentral AS berkomitmen untuk memperpanjang dukungan kebijakan moneter hingga rebound di Amerika Serikat lebih aman.

Meski tahun ini ekonomi AS mulai bangkit, para The Fed tetap berhati-hati dalam menghadapi kelanjutan risiko pandemi Covid-19 dan berkomitmen untuk memberi dukungan kebijakan moneter sampai rebound lebih aman, demikian bunyi risalah itu. “Risalah sekali lagi menunjukkan bahwa Fed berpikir itu akan terjadi pada suatu waktu sebelum para melihat yang diperlukan dari kemajuan substansial lebih lanjut pada tujuan ganda ketenagakerjaan dan inflasi,” kata Ronald Simpson, direktur pelaksana, analisis mata uang di Action Economics, seperti dilansir Antara.

Sedangkan dari dalam negeri, kurs rupiah berhasil menguat usai International Monetary Fund (IMF) atau Dana Moneter Internasional kembali menaikkan prospek ekonomi global. Para analis dan ekonom memprediksi penguatan rupiah akan berlanjut sampai hari ini. “IMF yang memproyeksikan ekonomi global naik dari 5,5% menjadi 6% di tahun ini memberikan napas bagi rupiah untuk bisa menguat terhadap dolar AS,” ucap Analis Asia Valbury Futures Lukman Leong, seperti dikutip dari Kontan.

Menurut Ekonom Bank Mandiri Reny Eka Puteri, rupiah menguat lantaran tekanan dari kenaikan yield US Treasury saat ini mulai reda. Selama beberapa hari belakangan, yield US Treasury stabil di level 1,6 persen. Selain itu, ekspektasi pelaku pasar terhadap inflasi AS yang tinggi juga mereda. “Tekanan dari pasar kendor terkait ekspektasi mereka pada inflasi AS, sementara The Fed masih akan terus dovish hingga 2023,” katanya. Terlebih karena data cadangan devisa Indonesia pada Maret 2021 masih tinggi, di angka 137,1 miliar dolar AS.

Loading...