Masih Perkasa, Kurs Rupiah Diprediksi Terus Menguat di Akhir Pekan

Rupiah - www.detikepri.comRupiah - www.detikepri.com

Jakarta – Nilai tukar Garuda dibuka menguat sebesar 46,5 poin atau 0,32 persen ke angka Rp14.272,5 per AS di awal pagi hari ini, Jumat (7/5). Kemarin, Kamis (6/5), rupiah ditutup menguat tajam sebesar 116 poin atau 0,80 persen ke posisi Rp14.319 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau melemah. Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, indeks dolar AS turun 0,34 persen jadi 90,948, mencapai level terendah dalam 3 hari. Penurunan USD terjadi lantaran sentimen risiko pasar membaik dan para pedagang menanti pekerjaan AS April yang akan dirilis pada hari Jumat waktu setempat.

Adapun penduduk Amerika Serikat yang mengajukan klaim baru untuk tunjangan pengangguran mengalami penurunan di bawah 500.000 pekan lalu untuk yang pertama sejak pandemi Covid-19 berlangsung lebih dari setahun lalu. Hal ini sekaligus menandakan pemulihan pasar tenaga kerja yang memasuki fase baru di tengah kondisi ekonomi yang sedang berkembang pesat.

Pasar kini sedang menanti laporan penggajian non- yang diawasi ketat pada Jumat waktu setempat, dengan prediksi antara 700.000 dan lebih dari 2 juta pekerjaan yang telah diciptakan pada April 2021. “Jika jumlahnya mencapai 1,5 juta, itu bisa menyebabkan lonjakan imbal hasil obligasi pemerintah AS yang akan memberikan beberapa dukungan sementara terhadap dolar,” ucap kata Edward Moya, analis pasar senior di broker FX OANDA di New York, seperti dilansir Antara.

Sedangkan rupiah diperkirakan berpotensi untuk melanjutkan penguatan pada akhir pekan ini. Salah satu sentimen yang mendukung adalah ketegasan Federal Reserve yang masih memertahankan suku bunga di level rendah. Menurut Ekonom Bank Mandiri Reni Eka Puteri, rupiah menguat setelah The Fed kembali menegaskan bahwa mereka tak akan menaikkan suku bunga dalam waktu dekat.

Lebih lanjut Reny memaparkan, The Fed baru akan menaikkan suku bunga jika data pengangguran menurun, angka penciptaan lapangan kerja tumbuh secara maksimal, dan inflasi secara konsisten ada di atas 2 persen dalam 6 bulan. “Ada ketegasan The Fed mempertahankan kebijakan dovish ini membawa angin segar bagi rupiah,” tandas Reny, seperti dikutip Kontan.

Loading...