Dolar AS Terkena Aksi Ambil Untung, Rupiah Manfaatkan Peluang untuk Menguat

Rupiah - merahputih.comRupiah - merahputih.com

Jakarta rupiah dibuka menguat sebesar 35 poin ke level Rp14.470 per AS di awal pagi hari ini, Rabu (7/4). Sebelumnya, Selasa (6/4), Garuda berakhir terapresiasi 10 poin atau 0,07 persen ke posisi Rp14.505 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau melemah. Pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, indeks dolar AS terpantau turun 0,239 persen jadi 92,341, level terendah sejak 23 Maret 2021. Penurunan dolar AS ini terjadi lantaran para pedagang membukukan keuntungan usai penguatan Maret dan penurunan imbal hasil pemerintah AS dari level tertinggi belum lama ini.

Dolar AS telah melonjak tahun ini bersama imbal hasil obligasi pemerintah AS, sebab bertaruh Amerika Serikat bakal pulih lebih cepat dari pandemi Covid-19 dibanding negara maju lainnya, di tengah guyuran stimulus besar-besaran serta vaksinasi agresif. Kenaikan dolar AS sebesar 2,5 persen pada Maret merupakan kenaikan bulanan terbesar untuk USD sejak akhir 2016.

“Saya kira kami melihat beberapa aksi ambil untung untuk memulai kuartal baru. Imbal hasil surat utang pemerintah telah memainkan peran dalam membantu dolar menemukan pijakannya. Imbal hasil yang lebih rendah hari ini akan menambah pemicu pada kenaikan ekuitas dan juga mengurangi untuk greenback,” ujar John Doyle, wakil presiden dan perdagangan di perusahaan pembayaran valas Tempus Inc, seperti dilansir Antara.

Menurut Ekonom Samuel Sekuritas Ahmad Mikail, indeks dolar AS kini tengah dalam tren menurun. Koreksi dolar AS diprediksi akan berlanjut sampai level 92,0, sehingga menguntungkan rupiah. “Dari sisi yield US Treasury juga sudah mulai turun, dan sepertinya akan sulit untuk bisa menembus ke level 1,7%. Kedua hal ini sebenarnya imbas dari biaya pengeluaran AS yang akhirnya sudah mulai berjalan,” beber Ahmad, seperti dikutip Kontan.

Biaya yang dimaksud merupakan stimulus berupa bantuan uang tunai untuk warga AS. “Imbasnya akan semakin membanjiri likuiditas di Negeri Paman Sam dan membuat pasar obligasi dan pasar AS akan menguat bersamaan,” tandas Ahmad.

Loading...