Yuan Ungguli Dolar AS, Rupiah Ikut Rebound Tipis di Rabu Pagi

Rupiah - www.cnbcindonesia.comRupiah - www.cnbcindonesia.com

Jakarta mengawali perdagangan pagi hari ini, Rabu (6/1), dengan penguatan tipis sebesar 2,5 poin atau 0,02 persen ke level Rp13.912,5 per dolar AS. Sebelumnya, Selasa (5/1), Garuda berakhir terdepresiasi sebesar 20 poin atau 0,14 persen ke posisi Rp13.915 per .

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the Greenback terhadap sejumlah mata uang utama terpantau melemah. Pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, indeks dolar AS terpantau turun 0,486 menjadi 89,429 di tengah keputusan untuk menaikkan nilai tukar yuan resminya dengan margin tertinggi sejak meninggalkan patokan dolar AS pada 2005. Sedangkan pemilihan putaran kedua Senat di bagian Georgia juga menjadi fokus .

China menetapkan kurs tengah yuan resmi pada 6,4760 per dolar AS sebelum pasar dibuka, naik satu persen dari penetapan sebelumnya, sekaligus menjadi penyesuaian lebih tinggi terbesar sejak tahun 2005. Di sisi lain, dolar As sempat menguat dalam langkah risk-off (penghindaran risiko) pada Senin (4/1) lantaran saham AS turun, namun melanjutkan penurunannya usai pengumuman China, yang juga berhasil menaikkan mata uang berisiko.

Selain itu, prospek pemilihan putaran kedua Senat AS di Georgia juga terlalu menari perhatian pasar. Kemenangan Demokrat di Georgia bisa mengambil kendali Senat dari Partai Republik, sehingga membuka jalan untuk langkah stimulus lebih lanjut serta pajak perusahaan yang lebih tinggi dan lebih banyak .

“Ada perbedaan pandangan yang besar tentang pemilihan di Georgia ini, orang-orang agak bingung sejauh apa yang akan menjadi hasil di sini. Akan ada optimisme untuk rebound pada dolar, itu tidak bisa dihindari, pertanyaannya berapa lama, tetapi Anda akan melihat penentuan posisi berlebihan atas taruhan bearish pada dolar ini harus dibatalkan,” ujar Edward Moya, analis pasar senior di OANDA di New York, seperti dilansir Antara.

Dari dalam negeri, Ekonom Bank Mandiri Reni Eka Puteri berpendapat melemahnya rupiah kemarin dipengaruhi gerak teknikal usai sempat menguat 2 persen awal tahun. Senada, Analis Valbury Asia Futures Lukman Leong memprediksi rupiah masih bertahan di bawah Rp14.000/dolar AS, terlebih menjelang pelantikan Presiden AS Joe Biden dan stimulus ekonomi AS yang cenderung membuat dolar AS melemah. “Risk appetite pelaku pasar ke emerging market cenderung masih agresif, membuat rupiah berpotensi menguat,” papar Lukman, seperti dikutip dari Kontan.

Loading...