The Fed Tetap Longgarkan Kebijakan Moneter, Rupiah Pagi Ini Masih Loyo

Rupiah - www.indopos.co.idRupiah - www.indopos.co.id

Jakarta mengawali pagi hari ini, Jumat (5/3), dengan pelemahan sebesar 48,5 poin ke angka Rp14.315 per AS. Kemarin, Kamis (4/3), mata uang Garuda ditutup terdepresiasi 21,5 poin atau 0,15 persen ke posisi Rp14.266,5 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap enam mata uang utama terpantau naik ke level tertinggi 3 bulan. Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, kurs dolar AS menguat 0,53 persen jadi 91,561 usai mencapai level 91,663, tertinggi sejak 1 Desember 2020.

Penguatan dolar AS terjadi usai Ketua Jerome Powell gagal mengungkapkan kekhawatiran terkait aksi jual pemerintah Amerika Serikat belum lama ini seperti yang diharapkan oleh , sehingga menyebabkan imbal hasil obligasi lebih tinggi. Powell mengesampingkan kekhawatiran bahwa kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS baru-baru ini mungkin menimbulkan masalah bagi saat para investor mendorong kenaikan biaya pinjaman yang ingin dipertahankan tetap rendah.

“Beberapa investor mengharapkan Powell untuk setidaknya mengakui bahwa ada beberapa kekhawatiran tentang peningkatan imbal hasil, yang tidak dia lakukan. Secara keseluruhan pesannya tetap sama, yang pada dasarnya mereka akan mempertahankan kebijakan moneter yang lebih longgar sampai ekonomi menunjukkan kekuatan yang konsisten dan kita kembali lebih dekat ke pra-pandemi dalam hal inflasi dan pasar tenaga kerja,” ujar Minh Trang, pedagang valas senior di Silicon Valley Bank di Santa Clara, California, seperti dilansir Antara.

Rupiah sendiri diperkirakan masih akan bergantung pada sentimen eksternal, namun berpeluang untuk menguat di akhir pekan. Menurut Analis Kapital Investama Alwi Assegaf, sentimen utama untuk rupiah berasal dari kenaikan yield US Treasury.

Pasar tengah mencermati pidato dari Powell. Apabila Powell dapat menenangkan kekhawatiran terhadap kenaikan yield US Treasury, maka dolar AS akan melemah dan mengangkat aset berisiko seperti rupiah. “Jika sebaliknya, dalam pidato Powell tidak menyinggung masalah yield US Treasury dan pasar menganggap The Fed mentolerir kenaikan tersebut maka rupiah bisa kembali tertekan,” beber Alwi, seperti dikutip Kontan.

Padahal, dari dalam negeri rupiah memperoleh katalis positif dari relaksasi pajak yang digagas pemerintah, termasuk pajak dividen. “Nah, pajak dividen ini bisa mencegah kapital outflow yang diakibatkan oleh kenaikan yield US Treasury karena dengan pajak dividen yang dibebaskan akan menarik investasi asing di dalam negeri,” tutupnya.

Loading...