Outlook Pemulihan Ekonomi AS Cerah, Rupiah Belum Mampu Bangkit

Rupiah - globalaktual.comRupiah - globalaktual.com

Jakarta rupiah dibuka melemah tipis sebesar 4 poin atau 0,03 persen ke angka Rp14.019 per AS di awal pagi hari ini, Jumat (5/2). Kemarin, Kamis (4/2), kurs Garuda berakhir terdepresiasi sebesar 10 poin atau 0,07 persen menjadi Rp14.015 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap enam mata uang utama terpantau menguat. Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, indeks dolar AS merangkak naik 0,5 persen ke level 91,509 dan sudah menguat 1,7 persen sepanjang tahun 2021 ini pada level tertinggi dalam 2 bulan.

Usai dolar AS kehilangan 7,0 persen tahun 2020 lalu, kenaikannya sejak bulan Desember 2020 terjadi lantaran short covering dan pandangan bahwa pemulihan Amerika Serikat dari kondisi pandemi (Covid-19) akan lebih kuat dibanding negara lainnya. “Ada perubahan mendasar di sini dalam jangka pendek di mana kami melihat prospek ekonomi AS benar-benar mengalahkan apa yang kami lihat di zona euro,” ujar Ed Moya, analis pasar senior di OANDA, seperti dilansir Antara.

Pandangan tersebut diperkuat pada Kamis (4/2) saat pemerintah Amerika Serikat mengungkapkan bahwa AS yang mengajukan aplikasi baru untuk tunjangan pengangguran turun pekan lalu. Adapun klaim awal untuk tunjangan pengangguran AS mencapai 779.000 yang disesuaikan secara musiman minggu lalu, lebih baik dari prediksi ekonom dan lebih baik dari 812.000 pada pekan sebelumnya. Pada Jumat, pemerintah akan melaporkan angka penggajian (payroll) pekerjaan untuk Januari 2021 dan ekonom memperkirakan adanya kenaikan 50.000 pekerjaan usai penurunan 140.000 pada Desember.

Menurut Kepala Riset dan Edukasi PT Monex Investindo Futures Ariston Tjendra, rupiah masih akan lanjut melemah pada perdagangan akhir pekan ini. Pasalnya, pada Kamis indeks dolar AS menguat didukung oleh sentimen outlook pemulihan ekonomi AS.

“Selain itu, data-data ekonomi yang dirilis belakangan juga memperlihatkan hasil yang lebih baik dari ekspektasi,” beber Ariston, seperti dikutip Kontan. Terlebih karena menguatnya yield obligasi pemerintah AS tenor 10 tahun ke posisi 1,14 persen juga ikut menopang laju penguatan dolar AS.

Loading...