Pasar Nantikan Data Pertumbuhan Ekonomi, Rupiah Dibuka Melaju 85 Poin

Rupiah - en.tempo.coRupiah - en.tempo.co

Jakarta terpantau menguat sebesar 85 poin atau 0,58 persen ke Rp14.540 per di awal pagi hari ini, Rabu (5/8). Sebelumnya, Selasa (3/8), nilai tukar Garuda berakhir terapresiasi 5 poin atau 0,03 persen Rp14.625 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap enam mata uang utama dilaporkan melemah. Pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, indeks dolar AS turun 0,16 persen usai merangkak naik 0,6 persen selama 2 sesi perdagangan sebelumnya. USD terkoreksi karena dipengaruhi aksi profit taking jangka pendek, sedangkan investor menanti pembicaraan di Washington terkait putaran bantuan (Covid-19) selanjutnya.

Usai mengalami penurunan bulanan terbesar dalam 1 dekade pada Juli 2020, dolar AS mengawali Agustus 2020 dengan penguatan karena sejumlah investor memangkas posisi jual. Namun, prospek jangka pendek untuk dolar AS sebagian berhubungan dengan pembahasan tentang putaran stimulus berikutnya di Washington dan dampak dari kasus baru positif Covid-19 di AS.

“Sementara konsolidasi atau rebound korektif moderat tidak bisa dihindari setelah penurunan tajam bulan lalu, sentimen pasar terhadap dolar masih negatif karena didominasi kekhawatiran tentang skala pandemi di AS dan dampaknya yang menghancurkan pada ekonomi,” kata Piotr Matys, analis valas senior di Rabobank, seperti dilansir dari Antara.

Di sisi lain, nilai tukar rupiah hari ini diperkirakan bergantung pada data pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal II 2020. Apabila realisasi pertumbuhan pada periode April-Juni 2020 tidak sesuai dengan ekspektasi, maka rupiah akan kembali terkoreksi.

“Apabila pertumbuhan menurun tajam di bawah proyeksi pemerintah sebesar minus 5%, akan terjadi aksi jual di pasar keuangan. Market menanti seberapa dalam kontraksi ekonomi Indonesia akibat dari pandemi virus corona,” ucap Ekonom Indef Bhima Yudhistira, seperti dikutip dari Kontan.

Tak hanya data pertumbuhan ekonomi, pasar pun menanti proyeksi ekonomi untuk kuartal berikutnya. Sentimen eksternal menurut Bhima juga akan menjadi salah satu katalis, terutama perkembangan kasus Covid-19 secara global maupun kondisi di AS. “Oleh sebab itu, yang perlu dicermati adalah pengalihan aset para pelaku pasar ke safe haven seperti dolar dan emas,” tandasnya.

Loading...