Rupiah Hari Ini Lanjut Menguat Seiring Melemahnya USD

Rupiah - blog.continentalcurrency.caRupiah - blog.continentalcurrency.ca

Jakarta rupiah dibuka menguat sebesar 22 poin atau 0,16 persen ke level Rp14.150 per dolar AS di awal pagi hari ini, Jumat (4/10). Sebelumnya, Kamis (3/10), mata uang Garuda berdasarkan Index terpantau naik 25 poin atau 0,18 persen ke posisi Rp14.172 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau melemah. Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, indeks dolar AS turun 0,17 persen jadi 98,8619 lantaran terpengaruh oleh sentimen negatif sejumlah data Amerika Serikat yang tidak sesuai dengan harapan , demikian seperti dilansir Antara.

Pada Kamis (3/10), Lembaga riset Institute for Supply Management (ISM) melaporkan, sektor jasa-jasa Amerika Serikat bulan lalu jatuh ke level terendah sejak Agustus 2016. Adapun indeks non manufaktur (sektor jasa-jasa) ada di angka 52,6 persen, turun 3,8 poin persentase dari indeks yang sama bulan Agustus sebesar 56,4 persen. Perolehan tersebut juga lebih rendah dibandingkan prediksi para ekonom yang disurvei Dow Jones di level 55,3.

Penurunan itu juga menyusul dirilisnya data ISM pada Selasa (1/10) yang menyebutkan bahwa aktivitas di sektor manufaktur AS yang mengalami kontraksi pada bulan September 2019. Menurut data terbaru, Indeks Manajer (PMI) sektor manufaktur AS berada di level 47,8 persen pada September, level paling rendah dari bulan Juni 2009. Angka tersebut sekaligus menandai kontraksi bulan kedua berturut-turut.

Sementara itu, Ekonom Bank BCA David Sumual berpendapat bahwa penguatan rupiah terjadi akibat dampak pelemahan dolar AS terhadap sejumlah mata uang regional yang beragam. Sementara itu, data pasar terutama bursa global dan domestik cenderung turun pada perdagangan kemarin.

David pun memperkirakan jika pada perdagangan hari ini rupiah kemungkinan akan bergerak konsolidasi ke arah penguatan. Sentimen utama penggerak rupiah masih berasal dari faktor teknikal dan juga data tenaga kerja AS yang baru saja dirilis. “Dari sentimen domestik belum ada yang berarti, inflasi masih bagus, importir mulai melihat pelemahan rupiah sebelumnya sebagai peluang, dan momentum demo juga sudah mereda,” kata David, seperti dilansir Kontan.

Loading...