Selera Risiko Meningkat Saat Pilpres AS, Rupiah Terus Melaju di Awal Dagang

Rupiah - www.indopos.co.idRupiah - www.indopos.co.id

Jakarta mengawali pada pagi hari ini, Rabu (4/11), dengan penguatan sebesar 68 poin atau 0,46 persen ke level Rp14.517 per AS. Sebelumnya, Selasa (3/11), Garuda berakhir terapresiasi 55 poin atau 0,38 persen ke posisi Rp14.585 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau melemah. Pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, indeks dolar AS tergelincir 0,51 persen jadi 93,55 akibat selera risiko lebih kuat saat para investor memposisikan prospek bahwa Joe Biden dari Partai Demokrat bakal memenangkan pemilihan presiden Amerika Serikat pada Selasa (3/11) dan mengeluarkan paket stimulus baru yang besar demi meningkatkan .

Para analisis meyakini bahwa kemenangan Biden akan membuat posisi dolar AS melemah lantaran mantan wakil presiden tersebut diprediksi bakal menghabiskan banyak uang untuk stimulus dan mengambil pendekatan perdagangan yang lebih bebas, meningkatkan mata uang lain dengan mengorbankan dolar AS. Selain itu, pengeluaran fiskal juga mungkin saja lebih tinggi bila Demokrat mengambil kendali atas Senat AS.

“Tampaknya pasar memperkirakan peluang kuat dari Demokrat hari ini, menyiratkan stimulus fiskal yang signifikan dan penerbitan utang diperkirakan pada 2021,” ujar Win Thin, kepala mata uang di Brown Brothers Harriman, seperti dilansir Antara.

Di sisi lain, proyeksi ekonomi Indonesia pada kuartal III 2020 yang diprediksi lebih baik rupanya menyumbang sentimen positif untuk rupiah pada perdagangan hari ini. Menurut Analis Pasar Uang Bank Mandiri Reny Eka Putri, sampai rilis data pertumbuhan ekonomi kuartal III 2020, rupiah kemungkinan cenderung untuk menguat.

Reny juga memperkirakan ekonomi Indonesia pada periode Juli-September 2020 masih akan mengalami kontraksi 3 persen. “Kami perkirakan ekonomi kuartal III-2020 sekitar -3% atau lebih baik dibandingkan kuartal II-2020 yang berada di -5,32%,” beber Reny, seperti dikutip dari Kontan.

Kembali membaiknya aktivitas ekonomi setelah terhantam pandemi virus corona (Covid-19) menjadi salah satu faktor pendukung pergerakan ekonomi dalam negeri. Menurut Reny, aktivitas sektor industri dan mobilitas masyarakat terlihat lebih baik dari kuartal sebelumnya.

Loading...