Ekspektasi Pemulihan Ekonomi AS Bikin Rupiah Melemah Tipis di Awal Dagang

Rupiah - www.merdeka.comRupiah - www.merdeka.com

Jakarta dibuka melemah sebesar 5 poin ke posisi Rp14.250 per AS di awal perdagangan pagi hari ini, Kamis (4/3). Sebelumnya, Rabu (3/3), mata uang Garuda berakhir terapresiasi 80 poin atau 0,56 persen ke level Rp14.245 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau menguat. Pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB, indeks dolar AS terpantau naik 0,14 persen jadi 90,924. Penguatan dolar AS terjadi ketika memprediksi pertumbuhan Amerika Serikat akan relatif lebih kuat dibanding lainnya.

Investor disebutkan telah meningkatkan taruhan pada pertumbuhan dan inflasi AS saat sedang menyiapkan stimulus fiskal baru, dan spekulasi meningkat bahwa Federal Reserve juga dapat mendekati normalisasi kebijakan moneter dibanding perkiraan sebelumnya.

“Apa yang dilihat saat ini adalah perbedaan pertumbuhan antara AS yang pulih dan lebih banyak yang tersendat di Eropa,” ungkap Joe Manimbo, analis senior di Western Union Business Solutions, di Washington, seperti dilansir Antara.

Berdasarkan Ketenagakerjaan Nasional ADP, data AS menunjukkan bahwa sektor swasta menambahkan sebanyak 117.000 pekerjaan pada bulan lalu, gagal memenuhi ekspektasi pasar. Tetapi, ekspektasi untuk perekrutan lebih kuat saat AS melaporkan data pekerjaan untuk Februari pada Jumat (5/3).

Di sisi lain, penurunan imbal hasil obligasi US Treasury menjadi salah satu penopang penguatan rupiah. Direktur PT TRFX Garuda Berjangka Ibrahim Assuaibi mengungkapkan bahwa imbal hasil US Treasury acuan tenor 10 tahun telah turun untuk hari keempat berturut-turut usai melonjak ke level tertinggi setahun selama pekan sebelumnya. Namun, yield surat utang tersebut masih mendekati level 1,4 persen.

“Pasar stabil setelah investor bereaksi terhadap lonjakan dengan aksi jual yang tajam, tetapi tanda-tanda pemulihan ekonomi AS dari Covid-19 dapat menyebabkan penurunan harga obligasi dan derivatif lagi,” ujar Ibrahim, seperti dilansir Kontan.

Dari dalam negeri, pemerintah optimis bahwa tahun ini ekonomi Indonesia akan pulih atau tumbuh positif di kisaran 4,5-5,3%. Prediksi itu sejalan dengan pemulihan perekonomian global yang diprediksi tubuh pada rentang 4,0-5,5%.

Loading...