Pasar Menanti Laporan Pekerjaan AS, Rupiah Tergelincir di Awal Dagang

Rupiah - Tribunnews.comRupiah - Tribunnews.com

Jakarta dibuka melemah tipis sebesar 2,5 poin atau 2 persen ke level Rp14.007,5 per AS di awal perdagangan pagi hari ini, Kamis (4/2). Kemarin, Rabu (3/2), Garuda berakhir terapresiasi 20 poin atau 0,14 persen ke posisi Rp14.005 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur gerak USD terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau rebound. Pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB, indeks dolar AS naik tipis sebesar 0,07 persen jadi 91,145 saat pasar sedang mencari petunjuk untuk langkah selanjutnya, misalnya dari pekerjaan AS pada Jumat (5/1).

Dolar AS sendiri sudah menguat 1,3 persen tahun ini karena pasar melihat perbedaan yang lebar antara kemungkinan keuatan pemulihan pasca pandemi di Amerika Serikat dan Eropa. “Rebound dolar telah melambat tetapi mungkin belum berakhir,” jelas ahli strategi di Brown Brothers Harriman, seperti dilansir Antara.

Sementara itu, Laporan Ketenagakerjaan Nasional ADP mengumumkan bahwa penggajian swasta meningkat 174.000 pekerjaan di bulan tersebut, ketika para ekonom memperkirakan 49.000 tambahan. Kemudian para ekonom memproyeksikan bahwa penggajian (payroll) non AS naik 50.000 pekerjaan pada Januari.

Rupiah sendiri terus ditopang oleh sentimen dari dalam negeri. Menurut Direktur TRFX Garuda Berjangka Ibrahim, walaupun dolar AS menguat, rupiah masih berpeluang tetap menghijau karena didukung oleh data internal. Misalnya saja yang akan segera menyelesaikan Rancangan Peraturan (RPP) dan Peraturan (Perpres) yang menjadi aturan pelaksana Undang-Undang (UU) Cipta Kerja. 

“Kehadiran UU Cipta Kerja yang efektif di lapangan membuat prospek berinvestasi di Indonesia jadi cerah dan dapat mendongkrak penciptaan lapangan kerja dan pertumbuhan ,” ungkap Ibrahim, seperti dikutip Bisnis.

Menurut data terbaru, Dana Moneter Internasional (IMF) memperkirakan pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun ini sebesar 4,4% lebih rendah 0,4% dari perkiraan di Juni lalu. Walau demikian, Ibrahim berpendapat revisi pertumbuhan ekonomi tersebut tetap dinilai baik dan dapat menyumbang sentimen positif untuk rupiah.

Di samping itu, proyeksi cadangan devisa periode Januari yang naik juga tampaknya akan menguatkan rupiah. “Sejak awal tahun ini pemerintah gencar melakukan front loading melalui penerbitan global bond yang dampaknya bisa meningkatkan cadangan devisa dan penguatan rupiah,” tandas Ahmad Mikail Zaini Ekonom Samuel Sekuritas Indonesia.

Loading...