Yield US Treasury Kembali Cetak Rekor, Kurs Rupiah Melempem di Pembukaan

Rupiah - www.beritamoneter.comRupiah - www.beritamoneter.com

Jakarta pada pagi hari ini, Rabu (31/3), dibuka melemah sebesar 2,5 poin ke angka Rp14.482,5 per dolar AS. Sebelumnya, Selasa (30/3), mata uang Garuda berakhir terdepresiasi 35 poin atau 0,24 persen ke posisi Rp14.480 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the Greenback terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau menguat. Pada akhir Selasa atau Rabu pagi WIB, indeks dolar AS merangkak naik 0,4 persen dan bertengger di level 93,294. Indeks dolar AS mencapai level tertinggi 93,357, level tertinggi dalam 4 bulan karena peningkatan vaksinasi Amerika Serikat dan stimulus besar mendukung ekspektasi pemulihan yang kuat dari pandemi, sehingga mengangkat imbal hasil US Treasury.

“Optimisme telah menjadi pendorong terbesar selama ini dengan pergerakan indeks dolar dari 89 dalam menjadi 93,” ujar Erik Nelson, ahli strategi makro di Wells Fargo di New York, seperti dilansir Antara. “Ada sedikit momentum di balik pergerakan itu. Kami telah menembus beberapa level teknis utama di beberapa mata uang utama, termasuk indeks dolar,” imbuhnya.

Data terbaru Amerika Serikat pada Selasa (30/3) terus mendukung prospek positif di ekonomi terbesar . menunjukkan bahwa kepercayaan AS mengalami peningkatan pada bulan Maret 2021 ke level tertinggi sejak munculnya pandemi Covid-19, sedangkan rumah juga naik dari tahun ke tahun pada Januari.

Dari dalam negeri, Ady Pangestu, Analis HFX Berjangka mengungkapkan bahwa pelemahan rupiah masih dipengaruhi oleh yield US Treasury yang kembali mencapai rekor tertinggi pada angka 1,76 persen pada Selasa kemarin. Sementara itu, Head of Economics Research Pefindo Fikri C. Permana menambahkan jika hal yang mengakibatkan rupiah melemah juga berasal dari kenaikan harga minyak usai OPEC kembali mengurangi produksi minyak.

Di samping itu, likuiditas global kini ikut terganggu lantaran perusahaan investasi AS Archegos Capital terpaksa melepaskan kepemilikan saham akibat kesulitan keuangan. “Tidak heran investor akhirnya menahan diri dan berpotensi terjadi capital flight, investor cenderung beralih memegang kas,” ujar Fikri, seperti dikutip dari Kontan. Terlebih karena adanya risiko geopolitik AS dan China sehubungan dengan pemboikotan beberapa dagang AS di China yang ikut menekan gerak rupiah.

Loading...