Dolar AS Melonjak ke Level Tertinggi, Rupiah Dibayangi Sentimen Risk-Off

Rupiah - www.tangandiatas.comRupiah - www.tangandiatas.com

Jakarta – Nilai tukar hari ini, Jumat (30/10), terpantau berada di level Rp14.686 per dolar AS menurut dari Yahoo Finance. Sebelum perayaan Maulid Nabi Muhammad SAW, Rabu (28/10), Garuda sempat melemah tipis 7 poin atau 0,05 persen ke posisi Rp14.627 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terpantau menguat. Pada akhir Kamis atau Jumat pagi WIB, indeks dolar AS naik 0,5 persen menjadi 93,942, mencuat ke level tertinggi empat minggu. Dolar AS menguat ketika euro terperosok ke level terendah empat pekan terhadap USD usai Presiden Eropa (ECB) memberi sinyal pelonggaran moneter lebih lanjut.

Data terbaru menunjukkan rekor kecepatan dalam Amerika Serikat untuk kuartal ketiga, serta tren yang meningkat dalam klaim pengangguran yang awalnya merugikan dolar AS sebagai aset lindung nilai yang aman. Pasalnya, laporan itu membuat selera risiko meningkat sekaligus mengangkat saham.

Akan tetapi, menurut para analis data positif tersebut akan membantu dolar AS untuk jangka panjang. Perhatian kini sedang tertuju pada ECB yang memertahankan suku bunganya, saat Eropa sedang menghadapi lonjakan kasus Covid-19 yang memaksa diberlakukannya lockdown nasional di Jerman dan Perancis serta penguncian di Spanyol.

“Jika Anda melihat aksi di pasar suku bunga, kami melihat penyesuaian lebih lanjut yang lebih rendah di beberapa ekspektasi suku bunga berjangka. Jadi pasar melihat komentar ECB sebagai indikasi penurunan suku bunga lebih lanjut,” ujar Ahli Strategi Mata Uang Wells Fargo, Erik Nelson, di New York, seperti dilansir Antara.

“Anda juga melihat latar belakang yang menantang secara keseluruhan di Eropa, yang berarti penghentian lebih lanjut dan lebih banyak pembatasan, lebih banyak daripada di Amerika Serikat. Jadi ini semacam badai sempurna yang membebani euro pada saat ini,” imbuhnya.

Di sisi lain, rupiah dikhawatirkan akan melemah pada perdagangan Jumat (30/10) lantaran banyak sentimen negatif untuk aset berisiko. “Pelaku pasar harus mewaspadai sentimen negatif meningkatnya kasus penularan Covid1-19 secara global pada aset berisiko termasuk rupiah.  Selain itu, rupiah berpotensi kembali tertekan karena stimulus fiskal AS kembali tertunda,” tutur Kepala Riset dan Edukasi Monex Investindo Futures Ariston Tjendra, seperti dikutip dari Kontan.

Loading...