Rupiah Bertahan di Zona Hijau Meski Dolar AS Rebound Usai Laporan Klaim Pengangguran

Rupiah - swarasemar.comRupiah - swarasemar.com

Jakarta – Kurs dibuka menguat sebesar 20 poin atau 0,14 persen ke level Rp14.430 per di awal perdagangan pagi hari ini, Jumat (30/4). Kemarin, Kamis (29/4), mata uang Garuda ditutup menguat 50 poin atau 0,34 persen ke posisi Rp14.450 per USD.

Sementara itu, indeks AS yang mengukur pergerakan the terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau rebound. Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, indeks AS merangkak naik 0,1 persen jadi 90,596 karena terkatrol oleh kenaikan imbal hasil Amerika Serikat usai melaporkan pertumbuhan yang kuat pada kuartal pertama dan peningkatan klaim pengangguran baru pada pekan terakhir April 2021.

Sebagai informasi, imbal hasil obligasi pemerintah AS 10 tahun naik 2 basis poin pada Kamis (29/4) menjadi 1,639 persen, berkat dorongan ekonomi yang positif. Produk domestik bruto (PDB) meningkat pada tingkat tahunan 6,4 persen pada kuartal pertama. Hal tersebut tercatat sebagai pertumbuhan tercepat kedua sejak kuartal ketiga 2003. Pertumbuhan kuartal pertama didukung oleh belanja yang naik 10,7 persen dibanding laju 2,3 persen pada kuartal keempat.

Departemen Tenaga Kerja AS juga melaporkan pada Kamis bahwa klaim awal AS untuk tunjangan pengangguran turun 13.000 jadi 553.000 yang disesuaikan secara musiman selama pekan yang berakhir 24 April 2021.

“Tentu saja, bagian besar dari pergerakan dolar adalah kenaikan imbal hasil hari ini. Ada korelasi yang cukup erat antara valas dan suku bunga. Semua orang puas dengan pergerakan suku bunga yang lebih rendah dan dolar hancur pada April. Sekarang imbal hasil naik dan sedikit stabil, kita akan melihat beberapa penguatan dolar,” ucap Erik Nelson, ahli strategi makro di Wells Fargo Securities di New York, seperti dilansir Antara.

Menurut Macroeconomic Analyst Bank Danamon Irman Faiz, perbaikan impor dan periode pembayaran dividen oleh perusahaan multinasional masih akan membayangi gerak rupiah dalam waktu dekat. Terlebih karena prospek dolar AS yang tinggi masih menahan penguatan rupiah. “Mungkin pada akhir kuartal ini akan ada penguatan rupiah yang berarti. Sebelum semester dua nanti tekanan akan lebih besar datang dari perbaikan aktivitas impor dalam negeri dan kemungkinan kenaikan yield US Treasury,” jelas Faiz, seperti dikutip Bisnis.

Loading...