Data Ekonomi AS Kurang Bergairah, Rupiah Justru Melemah Tipis di Pembukaan

Rupiah - www.merdeka.comRupiah - www.merdeka.com

Jakarta mengawali pagi hari ini, Kamis (3/10), dengan pelemahan tipis sebesar 1 poin atau 0,01 persen ke level Rp14.197,5 per AS. Kemarin, Rabu (2/10), kurs mata uang Garuda berakhir terapresiasi 19 poin atau 0,13 persen ke posisi Rp14.197 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur gerak the terhadap sejumlah mata uang utama terpantau melemah. Pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB, indeks dolar AS dilaporkan turun 0,11 persen menjadi 99,0277 lantaran para pelaku tengah mencerna berbagai ekonomi Amerika Serikat yang kurang memuaskan.

Berdasarkan Ketenagakerjaan Nasional ADP bulanan yang dirilis Rabu kemarin, data ketenagakerjaan sektor swasta Amerika Serikat mengalami peningkatan sebesar 135.000 pekerjaan pada September 2019, turun dari level 157.000 pekerjaan pada Agustus 2019 lalu. Sedangkan menurut para ekonom yang telah disurvei oleh Econoday memprediksi kenaikan sebesar 152.000 pekerjaan.

Adapun data ketenagakerjaan dirilis sehari usai angka-angka dari lembaga riset Institute for Supply Management (ISM) menunjukkan Indeks Pembelian Manajer (PMI) Amerika Serikat anjlok jadi 47,8 persen pada September 2019. Angka tersebut sekaligus tercatat sebagai level terendah sejak Juni 2009, demikian seperti dilaporkan Antara.

Sedangkan pada perdagangan kemarin, rupiah dinilai menguat karena terbantu oleh pelemahan yang dialami oleh dolar AS. Menurut Analis Monex Investindo Faisyal, lemahnya dolar AS diakibatkan pesimisme dari data sektor manufaktur Amerika Serikat yang dinilai kurang positif. “Data ini turun ke level terdalam selama 10 tahun terakhir,” kata Faisyal, seperti dilansir Kontan.

Lebih lanjut Faisyal menuturkan, penguatan rupiah kemarin bersifat terbatas lantaran pasar masih was-was dengan aksi demo lanjutan yang dilakukan oleh kaum buruh di gedung DPR MPR. Di samping itu, pasar saat ini juga cenderung wait and see sambil menunggu momen pelantikan presiden dan wakil presiden terpilih tanggal 20 Oktober 2019 mendatang.

Ekonom Bank Mandiri Reny Eka Putri menambahkan, pasar kini juga mulai berani meletakkan dananya dalam negeri karena stabilitas negara dinilai mulai membaik. Terlebih karena aksi unjuk rasa sudah tidak diwarnai kericuhan seperti sebelumnya. “Situasi ini nampaknya mengurangi tekanan terhadap rupiah,” beber Reny.

Pada perdagangan hari ini Faisyal memprediksi bahwa gerak rupiah akan dipengaruhi oleh data tenaga kerja AS versi ADP. “Ekspektasi data tersebut kurang bagus dampaknya terhadap dolar sehingga berpotensi memiliki sentimen positif untuk pergerakan rupiah,” ucapnya. Sedangkan Reny menilai rupiah masih akan bergerak sideways hingga akhir pekan ini.

Loading...