Pasar Fokus ke Stimulus AS, Rupiah Terkoreksi di Awal Dagang

Rupiah - ekbis.co.idRupiah - ekbis.co.id

Jakarta mengawali pagi hari ini, Kamis (3/12), dengan pelemahan sebesar 5 poin atau 0,04 persen ke posisi Rp14.120 per . Kemarin, Garuda berakhir terapresiasi tipis sebesar 5 poin atau 0,04 persen ke level Rp14.125 per USD.

Sedangkan indeks AS yang mengukur pergerakan the terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau melemah. Pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB, indeks dolar AS turun sebesar 0,1 persen jadi 91,115 usai sebelumnya berada di posisi 91,094, level terendah sejak April 2018. Penurunan dolar AS terjadi karena tertekan ekspektasi stimulus fiskal lebih lanjut untuk Amerika Serikat.

Partai Republik dan Demokrat di Kongres tetap belum mencapai kesepakatan terkait bantuan lebih banyak untuk ekonomi AS pada Rabu (2/12). Menteri Keuangan Steven Mnuchin mengatakan Donald Trump mendukung proposal yang diajukan oleh Pemimpin Mayoritas Republik Mitch McConnell setelah pada Selasa (1/12/2020) menolak paket bipartisan senilai 908 miliar dolar AS. Selama berbulan-bulan, McConnell telah mendorong rencana bantuan sebesar 500 miliar dolar AS yang ditolak oleh Partai Demokrat karena dianggap tak cukup.

Tetapi, pada Rabu (2/12) para pemimpin Demokrat mengungkapkan bahwa rencana bantuan virus bipartisan harus jadi dasar untuk negosiasi segera di Kongres AS. “Secara umum, temanya dan rencana bipartisan memberi kami dasar untuk pembicaraan stimulus lebih lanjut. Tapi sejujurnya, saya tidak yakin dengan rencana stimulus. Saya pikir mereka masih jauh dari kesepakatan dari apa yang bisa kita katakan,” ucap Amo Sahota, direktur eksekutif di perusahaan penasihat mata uang Klarity FX di San Francisco, seperti dilansir Reuters melalui Antara.

Rupiah memperoleh suntikan positif dari pidato dovish dari Gubernur The Fed Jerome Powell pada Rabu (2/12). Menurut Ekonom Bank Central Asia (BCA) David Sumual, Powell yang mengatakan bahwa Federal Reserve tak akan meningkatkan suku bunga hingga terjadi inflasi rupanya telah mendorong penguatan rupiah.

“Di satu sisi, fundamental rupiah tersokong dari inflasi Indonesia di November yang sebesar 0,28% secara bulanan. Indeks manufaktur dalam negeri juga berada di level 50,6 juga menunjukkan harapan pemulihan ekonomi,” tandas David, seperti dikutip Kontan.

Loading...