Pasar Nantikan Keputusan The Fed, Rupiah Melesat 80 Poin di Pembukaan

Rupiah - bisnis.tempo.coRupiah - bisnis.tempo.co

Jakarta – Kurs dibuka menguat sebesar 80 poin atau 0,55 persen ke level Rp14.455 per AS di awal perdagangan pagi hari ini, Rabu (29/7). Sebelumnya, Selasa (28/7), mata uang Garuda berakhir stagnan di posisi Rp14.535 per USD.

Indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the Greenback terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau naik moderat. Pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, indeks dolar AS terpantau rebound 0,02 persen ke angka 93,6955 lantaran para sedang mencermati pertemuan kebijakan utama Federal Reserve.

Bank sentral Amerika Serikat atau Federal Reserve memulai pertemuan kebijakan dua hari pada Selasa (28/7), diikuti dengan pengumuman keputusan acuan pada Rabu waktu setempat. “Keputusan Fed besok (hari ini) adalah panggung utama. Bahkan jika besok tidak mungkin menjadi momen yang tepat untuk pendekatan kebijakan moneter yang lebih ekspansif, Fed tidak diragukan lagi akan siap untuk pelonggaran lebih lanjut,” ungkap Esther Reichelt, analis valas di Commerzbank, seperti dilansir dari Antara.

Menurut Analis Kapital Investama Alwi Assegaf, rupiah hari ini berpotensi menguat. Rupiah diperkirakan akan ditopang oleh pelemahan dolar AS di tengah lonjakan jumlah kasus positif (Covid-19), sehingga memicu kekhawatiran bahwa pemulihan AS akan sulit untuk bangkit dibanding negara-negara lainnya.

“Selain itu, menjelang FOMC, pasar memperkirakan The Fed akan dovish, bisa membuat dolar AS makin terpuruk. Rupiah juga akan diuntungkan oleh berita vaksin yang diproduksi Moderna, yang sudah masuk fase 3 uji klinis terhadap 30.000 orang dan vaksin Pfizer juga memulai uji coba tahap akhir untuk vaksin Covid-19,” kata Alwi, seperti dikutip dari Kontan.

Lebih lanjut Alwi menambahkan, kabar itu dapat meningkatkan selera risk-on, ditambah lagi bila stimulus pemerintah AS resmi disahkan. Dari dalam negeri, apabila ada kabar positif terkait vaksin yang dikembangkan Biofarma, rupiah pun dapat semakin menguat.

Ekonom Indef Bhima Yudhistira Adhinegara menambahkan, rupiah pun berpotensi menguat karena dipengaruhi oleh investor yang mulai melepaskan kepemilikan dolar AS. “Pada 30 Juli akan ada pengumuman pertumbuhan ekonomi AS kuartal II-2020 yang menyebabkan dolar tidak lagi perkasa. Jika ekonomi AS anjlok cukup dalam maka investor mulai mencari negara berkembang dan aset seperti sebagai alternatif dari dolar AS,” pungkasnya.

Loading...