Kurs Rupiah Rebound Usai Data Klaim Pengangguran AS Turun

Rupiah - nusantara.newsRupiah - nusantara.news

Jakarta – Kurs dibuka menguat sebesar 20 poin atau 0,14 persen ke posisi Rp14.057,5 per AS di awal pagi hari ini, Jumat (29/1). Kemarin, Kamis (28/1), mata uang Garuda berakhir terdepresiasi 27,5 poin atau 0,20 persen ke angka Rp14.077,5 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sekeranjang mata uang utama terpantau melemah. Pada akhir perdagangan Kamis atau Jumat pagi WIB, indeks dolar AS turun 0,26 persen menjadi 90,429. Penurunan USD terjadi ketika para pelaku beralih ke mata uang berisiko usai data menunjukkan bahwa klaim pengangguran Amerika Serikat turun di pekan terakhir, sedangkan nilai bruto kurang menggembirakan.

Departemen Tenaga Kerja AS melaporkan bahwa klaim awal untuk tunjangan pengangguran berjumlah 847.000 yang disesuaikan secara musiman pada pekan yang berakhir 23 Januari 2021. Angka tersebut turun 67.000 dari minggu sebelumnya, namun klaim tetap jauh di atas puncak 665.000 mereka selama resesi hebat 2007-09.

“Data AS yang masuk mendukung tingkat pengambilan risiko, dengan PDB kuartal keempat naik mendekati ekspektasi, dan klaim pengangguran turun lebih besar dari yang diperkirakan,” ujar Ronald Simpson, direktur pelaksana, analisis mata uang di Action Economics, seperti dilansir Antara.

Saham-saham Amerika Serikat juga rebound pada Kamis setelah mengalami penurunan tajam pada hari sebelumnya saat musim laporan keuangan dimulai dengan awal yang kuat dan kekhawatiran mereda di sekitar hedge fund yang menjual posisi jangka panjang untuk menutupi posisi jangka pendek.

Dari dalam negeri, rupiah diprediksi akan melanjutkan pelemahan di akhir pekan ini akibat sentimen eksternal. Menurut Kepala Riset dan Edukasi Monex Investindo Futures Ariston Tjendra, ada beberapa sentimen negatif yang bakal menyeret rupiah seperti kekhawatiran rencana stimulus yang akan digelontorkan AS.

“Kekhawatiran kalau Joe Biden tidak akan (gelontorkan stimulus) secepat dan sebesar yang diharapkan. Ditambah lagi, kasus pandemi virus corona global masih menanjak dan turut menekan aset berisiko,” jelas Ariston, seperti dikutip Kontan.

Terlebih karena stimulus AS sangat diharapkan dapat membantu pemulihan kondisi ekonomi, pengendalian pandemi, sekaligus demi kelancaran ekonomi global. “Dengan kondisi ini, ada kemungkinan pelemahan rupiah akan berlanjut,” tandasnya.

Loading...