Suku Bunga The Fed Tetap, Rupiah Melambung di Awal Perdagangan

Rupiah - economy.okezone.comRupiah - economy.okezone.com

Jakarta Garuda mengawali perdagangan pagi hari ini, Kamis (29/4), dengan penguatan sebesar 70 poin ke angka Rp14.430 per AS. Kemarin, Rabu (28/4), berakhir terdepresiasi 15 poin atau 0,10 persen ke posisi Rp14.500 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap enam mata uang utama terpantau melemah. Pada akhir perdagangan Rabu atau Kamis pagi WIB, kurs dolar AS dilaporkan turun 0,3 persen menjadi 90,576, usai memupuskan ekspektasi penurunan awal dalam pembelian bulanan dan secara keseluruhan berhati-hati terkait prospek dan ekonomi secara keseluruhan.

Pada akhir pertemuan Komite Terbuka Federal (FOMC) selama dua hari, The Fed sesuai prediksi memutuskan untuk memertahankan suku bunga tidak berubah mendekati nol, namun mengakui adanya peningkatan dalam ekonomi Amerika Serikat. Dalam pidatonya, Ketua The Fed Jerome Powell menyampaikan bahwa ini bukan waktunya untuk berbicara tentang pengurangan pembelian asetnya. Pernyataan Powell itu pula yang memicu dolar AS turun lebih lanjut.

Dolar AS telah menguat seiring kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah AS dengan pandangan bahwa program vaksinasi yang berhasil dan penguatan data ekonomi bakal mendorong The Fed untuk membahas tentang pengurangan pembelian obligasi lebih cepat dibanding perkiraan.

“Powell melemparkan air dingin pada pembicaraan tentang tapering (pengurangan bertahap stimulus ) dan itu telah menjadi pendorong utama dalam pergerakan melemahnya dolar,” ungkap Ron Simpson, direktur pelaksana, analisis mata uang global di Action Economics di Tampa, Florida, seperti dilansir Antara.

Di sisi lain, gerak rupiah agaknya bakal dipengaruhi oleh hasil keputusan The Fed. Presiden Komisioner HFX International Berjangka Sutopo Widodo berpendapat bahwa sikap pasar cenderung berhati-hati. “Selama The Fed masih mempertahankan kebijakan akomodatif, rupiah akan diuntungkan dengan kondisi tersebut. Namun, jika ada kejutan baru, rupiah justru berpotensi mengalami pelemahan besok (hari ini),” kata Sutopo, seperti dikutip Kontan.

Tak jauh berbeda, Ekonom Sucor Sekuritas Ahmad Mikail mengatakan bahwa The Fed masih akan melakukan pembelian obligasi AS, sehingga mendorong arus modal ke emerging market. “Namun, muncul berita negatif, yakni ketegangan geopolitik antara Iran dan AS di Teluk Gulf. Jika sentimen ini terus berlanjut, bisa picu kenaikan minyak dunia yang pada akhirnya akan menjadi sentimen negatif bagi rupiah. Tapi selama isu geopolitik ini bisa diredam, rupiah berpotensi menguat,” tandas Ahmad.

Loading...