Jelang Keputusan The Fed, Kurs Rupiah Dibuka Melemah 5 Poin

Rupiah - ekonomi.kompas.comRupiah - ekonomi.kompas.com

Jakarta – Kurs dibuka melemah sebesar 5 poin ke level Rp14.490 per AS di awal pagi hari ini, Rabu (28/4). Sebelumnya, Selasa (27/4), mata uang Garuda berakhir stagnan di posisi Rp14.485 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap enam mata uang utama terpantau beragam. Pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, indeks dolar AS bergerak datar di angka 90,897, usai turun ke level terendah sejak 3 Maret semalam di 90,679. Pergerakan dolar AS ini ditengarai karena investor sedang menahan diri menjelang keputusan pertemuan kebijakan pada Rabu waktu setempat.

Perdagangan mata uang sebagian besar melemah jelang pertemuan dua hari The Fed, yang berakhir pada Rabu, saat tak ada perubahan kebijakan yang diharapkan. Para investor akan mencermati pidato Ketua The Fed Jerome Powell, yang kemungkinan akan menjawab kekhawatiran dan pertanyaan tentang apakah perbaikan kondisi membenarkan penarikan pelonggaran moneter. Akan tetapi, analis memprediksi Powell masih berpegang pada sikap ultra-akomodatif The Fed, sehingga membebani imbal hasil obligasi dan dolar.

“The Fed secara luas diperkirakan akan mempertahankan pengaturan kebijakan saat ini pada Rabu, tetapi pedagang sangat menyadari bahwa pergeseran hawkish – pengakuan kekuatan ekonomi yang mendasarinya – dapat memicu kenaikan dolar,” ucap Karl Schamotta, kepala strategi pasar di Cambridge Payments di Toronto, seperti dilansir Antara.

“Jika tanda-tanda optimisme bocor melalui pernyataan resmi atau selama konferensi pers, investor cenderung membawa ekspektasi meruncing ke depan dan mendorong kenaikan imbal hasil obligasi pemerintah. Kesadaran akan risiko ini membuat para pedagang tetap memarkir dana di dolar,” imbuhnya.

Menurut Kepala Ekonom Bank Central David Sumual, kondisi global dan kini sedang minim sentimen. Oleh sebab itu, kemarin rupiah cenderung bergerak mendatar. Tetapi, pada Rabu gerak harga minyak dunia dapat menjadi sentimen penentu gerak rupiah.

“Harga minyak sedang berada dalam tren negatif, apalagi ada kabar bahwa OPEC akan menambah supply minyak dunia sementara di satu sisi berpotensi turun. Hal ini seiring dengan kasus Covid-19 di India yang semakin parah, padahal India merupakan importir minyak dunia terbesar ketiga,” tandas David, seperti dikutip Kontan.

Loading...