Rupiah Melemah Tipis ke Level Rp14.089/USD di Awal Dagang

Rupiah - jateng.tribunnews.comRupiah - jateng.tribunnews.com

Jakarta – Kurs mengawali perdagangan pagi hari ini, Rabu (27/11), dengan pelemahan sebesar 1 poin atau 0,01 persen ke level Rp14.089 per AS. Sebelumnya, Selasa (26/11), Garuda berakhir terdepresiasi tipis 2 poin atau 0,01 persen ke posisi Rp14.088 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the terhadap sejumlah mata uang utama terpantau melemah. Pada akhir perdagangan Selasa atau Rabu pagi WIB, indeks dolar AS turun 0,08 persen menjadi 98,246 lantaran para pedagang melihat perkembangan terakhir pembicaraan perdagangan antara Amerika Serikat dengan China untuk mengetahui petunjuk dan pekan yang lebih pendek karena hari libur, sehingga mengakibatkan gerak mata uang teredam.

Pada Selasa (26/11), Presiden AS Donald Trump menyatakan bahwa AS dan China hampir mencapai kesepakatan dagang fase pertama usai perunding utama dari kedua berbicara via telepon dan setuju untuk terus mendiskusikan masalah-masalah yang masih belum tuntas.

“Apakah ini memberi tahu kami sesuatu yang tidak kami ketahui enam, tujuh minggu yang lalu? Sulit untuk dikatakan. Tapi saya akan percaya ketika saya melihatnya,” ujar Neil Wilson, kepala analis di Markets.com, seperti dilansir Antara.

AS telah mengenakan tarif untuk barang-barang China dalam konflik dagang yang berlangsung selama 16 bulan atas praktik perdagangan yang menurut AS tidak adil. China pun melakukan balasan dengan mematok tarif sendiri untuk barang-barang AS. Apabila AS-China belum segera mencapai kesepakatan, maka tanggal penting berikutnya yang akan dipantau pasar adalah 15 Desember 2019, saat Washington dijadwalkan memberlakukan tarif lebih besar untuk barang-barang China.

Pada Selasa (26/11), data defisit perdagangan barang AS turun drastis pada Oktober 2019 lantaran angka ekspor dan impor yang menurun. Selain itu, tingkat kepercayaan AS juga melemah untuk bulan keempat berturut-turut pada November di tengah kekhawatiran terkait kondisi bisnis sekarang dan prospek lapangan kerja.

Di sisi lain, Ekonom Bank Central (BCA) David Sumual berpendapat bawah perang dagang AS dan China yang masih berlanjut membuat dolar AS terus menguat terhadap mata uang emerging market, termasuk rupiah. “Sementara, dari dalam negeri belum ada data ekonomi baru yang bisa mempengaruhi pergerakan kurs rupiah,” ujar David, seperti dilansir Kontan. Oleh sebab itu, David memprediksi hari ini gerak rupiah akan cenderung melemah.

Loading...