Rawan Terkena Profit Taking, Rupiah Pagi Ini Melemah Tipis ke Rp14.105/USD

Rupiah - merahputih.comRupiah - merahputih.com

Jakarta dibuka melemah sebesar 5 poin atau 0,04 persen ke posisi Rp14.105 per AS di awal pagi hari ini, Jumat (27/11). Kemarin, Kamis (26/11), Garuda berakhir terapresiasi 44 poin atau 0,31 persen ke level Rp14.100 per USD.

Sementara itu, indeks dolar AS yang mengukur pergerakan the Greenback terhadap sejumlah mata uang utama terpantau naik tipis sebesar 0,01 persen menjadi 92,0104 menurut data terakhir dari Xinhua, Jumat (27/11). Adapun volume perdagangan dolar saat ini relatif tipis lantaran sedang ditutup pada hari Kamis karena bertepatan dengan libur Hari Thanksgiving.

Akan tetapi, dolar masih berada di jalur penurunan mingguan terhadap sekeranjang mata uang utama di tengah meningkatnya selera risiko para pelaku pasar. “Hari ini akan menjadi hari yang tenang, dengan hampir tidak ada katalis untuk menggerakkan pasar. Namun, dolar secara luas tertekan pada penjualan akhir bulan,” ujar Shinichiro Kadota, ahli senior di Barclays, seperti dilansir Antara.

Setelah menguat dalam perdagangan kemarin, rupiah disebut-sebut rawan terkena profit taking atau aksi ambil untung. Walau demikian, pada perdagangan akhir pekan ini rupiah diyakini masih mampu menguat tipis. Menurut Ekonom Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Bhima Yudhistira Adhinegara, sentimen domestik dan eksternal akan kompak mendukung penguatan rupiah hari ini.

Walau demikian, Bhima juga memperingatkan bahwa investor harus tetap waspada dengan sudden reversal akibat profit taking di bursa karena kenaikan Indeks Saham Gabungan (IHSG) sudah melambung 12% sejak sebulan terakhir. “Ini rawan koreksi net sell dana asing,” beber Bhima, seperti dilansir Kontan.

Sentimen yang diprediksi akan menopang penguatan rupiah hari ini berasal dari kabar China yang akan membeli batu bara thermal Indonesia pada tahun 2021 dengan harga menarik. Hal tersebut akhirnya mendorong investor untuk memborong saham batubara. Di samping itu, prospek pemulihan harga komoditas dapat reli positif sampai awal 2021. “Selain itu faktor kenaikan anggaran Transfer ke Daerah dan Dana Desa (TKDD) 4,1% tahun depan menjadi angin segar bagi pemulihan ekonomi di daerah,” ungkap Bhima.

Loading...